\u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n
Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n
\u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n
Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n
\u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n \u201cAda 17 persen dari 88 juta kepala keluarga yang masih masuk kelompok pra sejahtera. Mengapa ini terjadi, karena salah satunya adalah rendahnya pendidikan. Dari 17 persen tersebut, 50 persen di antaranya lulusan sekolah dasar. Inillah persoalannya,\u201d ungkap Aher.<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam sambutannya, Ahmad Heryawan mengatakan bahwa negara hadir untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Keamanan merupakan hasil dari tidak adanya rasa takut, sementara kesejahteraan diindkasikan dari tidak adanya rasa lapar. Menurut Kang Aher, panggilan akrab Wakil Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, jalan negara menuju kesejahteraan masih cukup jauh karena adanya persoalan yang belum terselesaikan baik dari hasil pembangunan saat ini yang berdampak pada masalah sosial maupun dari masalah eksternal.<\/p>\n\n\n\n \u201cAda 17 persen dari 88 juta kepala keluarga yang masih masuk kelompok pra sejahtera. Mengapa ini terjadi, karena salah satunya adalah rendahnya pendidikan. Dari 17 persen tersebut, 50 persen di antaranya lulusan sekolah dasar. Inillah persoalannya,\u201d ungkap Aher.<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n JAKARTA \u2013 Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kemarin (30\/10) bertemu dengan mantan Gubernur dua periode Jawa Barat Ahmad Heryawan di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera, Jalan TB Simatupang, Jakarta. Pertemuan ini merupakan bagian dari kegiatan pelatihan relawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang diinisiasi oleh Bidang Kesejahteraan Sosial DPP PKS.<\/p>\n\n\n\n Dalam sambutannya, Ahmad Heryawan mengatakan bahwa negara hadir untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Keamanan merupakan hasil dari tidak adanya rasa takut, sementara kesejahteraan diindkasikan dari tidak adanya rasa lapar. Menurut Kang Aher, panggilan akrab Wakil Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, jalan negara menuju kesejahteraan masih cukup jauh karena adanya persoalan yang belum terselesaikan baik dari hasil pembangunan saat ini yang berdampak pada masalah sosial maupun dari masalah eksternal.<\/p>\n\n\n\n \u201cAda 17 persen dari 88 juta kepala keluarga yang masih masuk kelompok pra sejahtera. Mengapa ini terjadi, karena salah satunya adalah rendahnya pendidikan. Dari 17 persen tersebut, 50 persen di antaranya lulusan sekolah dasar. Inillah persoalannya,\u201d ungkap Aher.<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n Humas PKS Musi Rawas<\/p>\n","post_title":"DPD PKS Musi Rawas Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dpd-pks-musi-rawas-peringati-maulid-nabi-muhammad-saw","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:38:00","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:38:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1584,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:24:53","post_date_gmt":"2022-10-31 10:24:53","post_content":"\n JAKARTA \u2013 Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kemarin (30\/10) bertemu dengan mantan Gubernur dua periode Jawa Barat Ahmad Heryawan di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera, Jalan TB Simatupang, Jakarta. Pertemuan ini merupakan bagian dari kegiatan pelatihan relawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang diinisiasi oleh Bidang Kesejahteraan Sosial DPP PKS.<\/p>\n\n\n\n Dalam sambutannya, Ahmad Heryawan mengatakan bahwa negara hadir untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Keamanan merupakan hasil dari tidak adanya rasa takut, sementara kesejahteraan diindkasikan dari tidak adanya rasa lapar. Menurut Kang Aher, panggilan akrab Wakil Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, jalan negara menuju kesejahteraan masih cukup jauh karena adanya persoalan yang belum terselesaikan baik dari hasil pembangunan saat ini yang berdampak pada masalah sosial maupun dari masalah eksternal.<\/p>\n\n\n\n \u201cAda 17 persen dari 88 juta kepala keluarga yang masih masuk kelompok pra sejahtera. Mengapa ini terjadi, karena salah satunya adalah rendahnya pendidikan. Dari 17 persen tersebut, 50 persen di antaranya lulusan sekolah dasar. Inillah persoalannya,\u201d ungkap Aher.<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Humas PKS Musi Rawas<\/p>\n","post_title":"DPD PKS Musi Rawas Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dpd-pks-musi-rawas-peringati-maulid-nabi-muhammad-saw","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:38:00","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:38:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1584,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:24:53","post_date_gmt":"2022-10-31 10:24:53","post_content":"\n JAKARTA \u2013 Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kemarin (30\/10) bertemu dengan mantan Gubernur dua periode Jawa Barat Ahmad Heryawan di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera, Jalan TB Simatupang, Jakarta. Pertemuan ini merupakan bagian dari kegiatan pelatihan relawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang diinisiasi oleh Bidang Kesejahteraan Sosial DPP PKS.<\/p>\n\n\n\n Dalam sambutannya, Ahmad Heryawan mengatakan bahwa negara hadir untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Keamanan merupakan hasil dari tidak adanya rasa takut, sementara kesejahteraan diindkasikan dari tidak adanya rasa lapar. Menurut Kang Aher, panggilan akrab Wakil Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, jalan negara menuju kesejahteraan masih cukup jauh karena adanya persoalan yang belum terselesaikan baik dari hasil pembangunan saat ini yang berdampak pada masalah sosial maupun dari masalah eksternal.<\/p>\n\n\n\n \u201cAda 17 persen dari 88 juta kepala keluarga yang masih masuk kelompok pra sejahtera. Mengapa ini terjadi, karena salah satunya adalah rendahnya pendidikan. Dari 17 persen tersebut, 50 persen di antaranya lulusan sekolah dasar. Inillah persoalannya,\u201d ungkap Aher.<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n \"Zaman sekarang kita krisis kepedulian, banyak pencitraan dan seremonial\".<\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Humas PKS Musi Rawas<\/p>\n","post_title":"DPD PKS Musi Rawas Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dpd-pks-musi-rawas-peringati-maulid-nabi-muhammad-saw","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:38:00","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:38:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1584,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:24:53","post_date_gmt":"2022-10-31 10:24:53","post_content":"\n JAKARTA \u2013 Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kemarin (30\/10) bertemu dengan mantan Gubernur dua periode Jawa Barat Ahmad Heryawan di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera, Jalan TB Simatupang, Jakarta. Pertemuan ini merupakan bagian dari kegiatan pelatihan relawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang diinisiasi oleh Bidang Kesejahteraan Sosial DPP PKS.<\/p>\n\n\n\n Dalam sambutannya, Ahmad Heryawan mengatakan bahwa negara hadir untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Keamanan merupakan hasil dari tidak adanya rasa takut, sementara kesejahteraan diindkasikan dari tidak adanya rasa lapar. Menurut Kang Aher, panggilan akrab Wakil Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, jalan negara menuju kesejahteraan masih cukup jauh karena adanya persoalan yang belum terselesaikan baik dari hasil pembangunan saat ini yang berdampak pada masalah sosial maupun dari masalah eksternal.<\/p>\n\n\n\n \u201cAda 17 persen dari 88 juta kepala keluarga yang masih masuk kelompok pra sejahtera. Mengapa ini terjadi, karena salah satunya adalah rendahnya pendidikan. Dari 17 persen tersebut, 50 persen di antaranya lulusan sekolah dasar. Inillah persoalannya,\u201d ungkap Aher.<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dimomen Maulid Nabi Muhammad ini, Ustadz Azhami mengajak hadirin untuk mencontoh sifat Rasulullah, salah satunya sifat peduli.<\/p>\n\n\n\n \"Zaman sekarang kita krisis kepedulian, banyak pencitraan dan seremonial\".<\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Humas PKS Musi Rawas<\/p>\n","post_title":"DPD PKS Musi Rawas Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dpd-pks-musi-rawas-peringati-maulid-nabi-muhammad-saw","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:38:00","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:38:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1584,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:24:53","post_date_gmt":"2022-10-31 10:24:53","post_content":"\n JAKARTA \u2013 Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kemarin (30\/10) bertemu dengan mantan Gubernur dua periode Jawa Barat Ahmad Heryawan di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera, Jalan TB Simatupang, Jakarta. Pertemuan ini merupakan bagian dari kegiatan pelatihan relawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang diinisiasi oleh Bidang Kesejahteraan Sosial DPP PKS.<\/p>\n\n\n\n Dalam sambutannya, Ahmad Heryawan mengatakan bahwa negara hadir untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Keamanan merupakan hasil dari tidak adanya rasa takut, sementara kesejahteraan diindkasikan dari tidak adanya rasa lapar. Menurut Kang Aher, panggilan akrab Wakil Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, jalan negara menuju kesejahteraan masih cukup jauh karena adanya persoalan yang belum terselesaikan baik dari hasil pembangunan saat ini yang berdampak pada masalah sosial maupun dari masalah eksternal.<\/p>\n\n\n\n \u201cAda 17 persen dari 88 juta kepala keluarga yang masih masuk kelompok pra sejahtera. Mengapa ini terjadi, karena salah satunya adalah rendahnya pendidikan. Dari 17 persen tersebut, 50 persen di antaranya lulusan sekolah dasar. Inillah persoalannya,\u201d ungkap Aher.<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n \"Sekarang ini kejahiliahan kontemporer. Yang paling penting adalah akhlak, sejauh mana kita mencontoh Nabi. Zaman sekarang kita ini isalam tapi kadang tidak islami,\" katanya.<\/p>\n\n\n\n Dimomen Maulid Nabi Muhammad ini, Ustadz Azhami mengajak hadirin untuk mencontoh sifat Rasulullah, salah satunya sifat peduli.<\/p>\n\n\n\n \"Zaman sekarang kita krisis kepedulian, banyak pencitraan dan seremonial\".<\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Humas PKS Musi Rawas<\/p>\n","post_title":"DPD PKS Musi Rawas Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dpd-pks-musi-rawas-peringati-maulid-nabi-muhammad-saw","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:38:00","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:38:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1584,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:24:53","post_date_gmt":"2022-10-31 10:24:53","post_content":"\n JAKARTA \u2013 Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kemarin (30\/10) bertemu dengan mantan Gubernur dua periode Jawa Barat Ahmad Heryawan di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera, Jalan TB Simatupang, Jakarta. Pertemuan ini merupakan bagian dari kegiatan pelatihan relawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang diinisiasi oleh Bidang Kesejahteraan Sosial DPP PKS.<\/p>\n\n\n\n Dalam sambutannya, Ahmad Heryawan mengatakan bahwa negara hadir untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Keamanan merupakan hasil dari tidak adanya rasa takut, sementara kesejahteraan diindkasikan dari tidak adanya rasa lapar. Menurut Kang Aher, panggilan akrab Wakil Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, jalan negara menuju kesejahteraan masih cukup jauh karena adanya persoalan yang belum terselesaikan baik dari hasil pembangunan saat ini yang berdampak pada masalah sosial maupun dari masalah eksternal.<\/p>\n\n\n\n \u201cAda 17 persen dari 88 juta kepala keluarga yang masih masuk kelompok pra sejahtera. Mengapa ini terjadi, karena salah satunya adalah rendahnya pendidikan. Dari 17 persen tersebut, 50 persen di antaranya lulusan sekolah dasar. Inillah persoalannya,\u201d ungkap Aher.<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n Kemudian, pada tausiyah, Ustadz Azhami Johani menyampaikan saat ini sudah banyak orang pintar, tapi tidak sedikit yang akhlaknya jahiliah.<\/p>\n\n\n\n \"Sekarang ini kejahiliahan kontemporer. Yang paling penting adalah akhlak, sejauh mana kita mencontoh Nabi. Zaman sekarang kita ini isalam tapi kadang tidak islami,\" katanya.<\/p>\n\n\n\n Dimomen Maulid Nabi Muhammad ini, Ustadz Azhami mengajak hadirin untuk mencontoh sifat Rasulullah, salah satunya sifat peduli.<\/p>\n\n\n\n \"Zaman sekarang kita krisis kepedulian, banyak pencitraan dan seremonial\".<\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Humas PKS Musi Rawas<\/p>\n","post_title":"DPD PKS Musi Rawas Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dpd-pks-musi-rawas-peringati-maulid-nabi-muhammad-saw","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:38:00","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:38:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1584,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:24:53","post_date_gmt":"2022-10-31 10:24:53","post_content":"\n JAKARTA \u2013 Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kemarin (30\/10) bertemu dengan mantan Gubernur dua periode Jawa Barat Ahmad Heryawan di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera, Jalan TB Simatupang, Jakarta. Pertemuan ini merupakan bagian dari kegiatan pelatihan relawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang diinisiasi oleh Bidang Kesejahteraan Sosial DPP PKS.<\/p>\n\n\n\n Dalam sambutannya, Ahmad Heryawan mengatakan bahwa negara hadir untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Keamanan merupakan hasil dari tidak adanya rasa takut, sementara kesejahteraan diindkasikan dari tidak adanya rasa lapar. Menurut Kang Aher, panggilan akrab Wakil Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, jalan negara menuju kesejahteraan masih cukup jauh karena adanya persoalan yang belum terselesaikan baik dari hasil pembangunan saat ini yang berdampak pada masalah sosial maupun dari masalah eksternal.<\/p>\n\n\n\n \u201cAda 17 persen dari 88 juta kepala keluarga yang masih masuk kelompok pra sejahtera. Mengapa ini terjadi, karena salah satunya adalah rendahnya pendidikan. Dari 17 persen tersebut, 50 persen di antaranya lulusan sekolah dasar. Inillah persoalannya,\u201d ungkap Aher.<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dimana, akhlak mulia sendiri sudah menjadi aturan di Indonesia dan tercantum dalam Undang-undang.<\/p>\n\n\n\n Kemudian, pada tausiyah, Ustadz Azhami Johani menyampaikan saat ini sudah banyak orang pintar, tapi tidak sedikit yang akhlaknya jahiliah.<\/p>\n\n\n\n \"Sekarang ini kejahiliahan kontemporer. Yang paling penting adalah akhlak, sejauh mana kita mencontoh Nabi. Zaman sekarang kita ini isalam tapi kadang tidak islami,\" katanya.<\/p>\n\n\n\n Dimomen Maulid Nabi Muhammad ini, Ustadz Azhami mengajak hadirin untuk mencontoh sifat Rasulullah, salah satunya sifat peduli.<\/p>\n\n\n\n \"Zaman sekarang kita krisis kepedulian, banyak pencitraan dan seremonial\".<\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Humas PKS Musi Rawas<\/p>\n","post_title":"DPD PKS Musi Rawas Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dpd-pks-musi-rawas-peringati-maulid-nabi-muhammad-saw","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:38:00","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:38:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1584,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:24:53","post_date_gmt":"2022-10-31 10:24:53","post_content":"\n JAKARTA \u2013 Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kemarin (30\/10) bertemu dengan mantan Gubernur dua periode Jawa Barat Ahmad Heryawan di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera, Jalan TB Simatupang, Jakarta. Pertemuan ini merupakan bagian dari kegiatan pelatihan relawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang diinisiasi oleh Bidang Kesejahteraan Sosial DPP PKS.<\/p>\n\n\n\n Dalam sambutannya, Ahmad Heryawan mengatakan bahwa negara hadir untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Keamanan merupakan hasil dari tidak adanya rasa takut, sementara kesejahteraan diindkasikan dari tidak adanya rasa lapar. Menurut Kang Aher, panggilan akrab Wakil Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, jalan negara menuju kesejahteraan masih cukup jauh karena adanya persoalan yang belum terselesaikan baik dari hasil pembangunan saat ini yang berdampak pada masalah sosial maupun dari masalah eksternal.<\/p>\n\n\n\n \u201cAda 17 persen dari 88 juta kepala keluarga yang masih masuk kelompok pra sejahtera. Mengapa ini terjadi, karena salah satunya adalah rendahnya pendidikan. Dari 17 persen tersebut, 50 persen di antaranya lulusan sekolah dasar. Inillah persoalannya,\u201d ungkap Aher.<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dimana, akhlak mulia sendiri sudah menjadi aturan di Indonesia dan tercantum dalam Undang-undang.<\/p>\n\n\n\n Kemudian, pada tausiyah, Ustadz Azhami Johani menyampaikan saat ini sudah banyak orang pintar, tapi tidak sedikit yang akhlaknya jahiliah.<\/p>\n\n\n\n \"Sekarang ini kejahiliahan kontemporer. Yang paling penting adalah akhlak, sejauh mana kita mencontoh Nabi. Zaman sekarang kita ini isalam tapi kadang tidak islami,\" katanya.<\/p>\n\n\n\n Dimomen Maulid Nabi Muhammad ini, Ustadz Azhami mengajak hadirin untuk mencontoh sifat Rasulullah, salah satunya sifat peduli.<\/p>\n\n\n\n \"Zaman sekarang kita krisis kepedulian, banyak pencitraan dan seremonial\".<\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Humas PKS Musi Rawas<\/p>\n","post_title":"DPD PKS Musi Rawas Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dpd-pks-musi-rawas-peringati-maulid-nabi-muhammad-saw","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:38:00","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:38:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1584,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:24:53","post_date_gmt":"2022-10-31 10:24:53","post_content":"\n JAKARTA \u2013 Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kemarin (30\/10) bertemu dengan mantan Gubernur dua periode Jawa Barat Ahmad Heryawan di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera, Jalan TB Simatupang, Jakarta. Pertemuan ini merupakan bagian dari kegiatan pelatihan relawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang diinisiasi oleh Bidang Kesejahteraan Sosial DPP PKS.<\/p>\n\n\n\n Dalam sambutannya, Ahmad Heryawan mengatakan bahwa negara hadir untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Keamanan merupakan hasil dari tidak adanya rasa takut, sementara kesejahteraan diindkasikan dari tidak adanya rasa lapar. Menurut Kang Aher, panggilan akrab Wakil Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, jalan negara menuju kesejahteraan masih cukup jauh karena adanya persoalan yang belum terselesaikan baik dari hasil pembangunan saat ini yang berdampak pada masalah sosial maupun dari masalah eksternal.<\/p>\n\n\n\n \u201cAda 17 persen dari 88 juta kepala keluarga yang masih masuk kelompok pra sejahtera. Mengapa ini terjadi, karena salah satunya adalah rendahnya pendidikan. Dari 17 persen tersebut, 50 persen di antaranya lulusan sekolah dasar. Inillah persoalannya,\u201d ungkap Aher.<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n Sementara, anggota DPR RI Fraksi X PKS, Mustafa Kamal, dalam sambutan menceritakan perjalanan Rasulullah dalam menyempurnakan akhlak mulia manusia.<\/p>\n\n\n\n Dimana, akhlak mulia sendiri sudah menjadi aturan di Indonesia dan tercantum dalam Undang-undang.<\/p>\n\n\n\n Kemudian, pada tausiyah, Ustadz Azhami Johani menyampaikan saat ini sudah banyak orang pintar, tapi tidak sedikit yang akhlaknya jahiliah.<\/p>\n\n\n\n \"Sekarang ini kejahiliahan kontemporer. Yang paling penting adalah akhlak, sejauh mana kita mencontoh Nabi. Zaman sekarang kita ini isalam tapi kadang tidak islami,\" katanya.<\/p>\n\n\n\n Dimomen Maulid Nabi Muhammad ini, Ustadz Azhami mengajak hadirin untuk mencontoh sifat Rasulullah, salah satunya sifat peduli.<\/p>\n\n\n\n \"Zaman sekarang kita krisis kepedulian, banyak pencitraan dan seremonial\".<\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Humas PKS Musi Rawas<\/p>\n","post_title":"DPD PKS Musi Rawas Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dpd-pks-musi-rawas-peringati-maulid-nabi-muhammad-saw","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:38:00","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:38:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1584,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:24:53","post_date_gmt":"2022-10-31 10:24:53","post_content":"\n JAKARTA \u2013 Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kemarin (30\/10) bertemu dengan mantan Gubernur dua periode Jawa Barat Ahmad Heryawan di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera, Jalan TB Simatupang, Jakarta. Pertemuan ini merupakan bagian dari kegiatan pelatihan relawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang diinisiasi oleh Bidang Kesejahteraan Sosial DPP PKS.<\/p>\n\n\n\n Dalam sambutannya, Ahmad Heryawan mengatakan bahwa negara hadir untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Keamanan merupakan hasil dari tidak adanya rasa takut, sementara kesejahteraan diindkasikan dari tidak adanya rasa lapar. Menurut Kang Aher, panggilan akrab Wakil Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, jalan negara menuju kesejahteraan masih cukup jauh karena adanya persoalan yang belum terselesaikan baik dari hasil pembangunan saat ini yang berdampak pada masalah sosial maupun dari masalah eksternal.<\/p>\n\n\n\n \u201cAda 17 persen dari 88 juta kepala keluarga yang masih masuk kelompok pra sejahtera. Mengapa ini terjadi, karena salah satunya adalah rendahnya pendidikan. Dari 17 persen tersebut, 50 persen di antaranya lulusan sekolah dasar. Inillah persoalannya,\u201d ungkap Aher.<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n Ia berharap, dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad ini bisa meneladani sifat Rasulullah dan menghidupkan sunnah.<\/p>\n\n\n\n Sementara, anggota DPR RI Fraksi X PKS, Mustafa Kamal, dalam sambutan menceritakan perjalanan Rasulullah dalam menyempurnakan akhlak mulia manusia.<\/p>\n\n\n\n Dimana, akhlak mulia sendiri sudah menjadi aturan di Indonesia dan tercantum dalam Undang-undang.<\/p>\n\n\n\n Kemudian, pada tausiyah, Ustadz Azhami Johani menyampaikan saat ini sudah banyak orang pintar, tapi tidak sedikit yang akhlaknya jahiliah.<\/p>\n\n\n\n \"Sekarang ini kejahiliahan kontemporer. Yang paling penting adalah akhlak, sejauh mana kita mencontoh Nabi. Zaman sekarang kita ini isalam tapi kadang tidak islami,\" katanya.<\/p>\n\n\n\n Dimomen Maulid Nabi Muhammad ini, Ustadz Azhami mengajak hadirin untuk mencontoh sifat Rasulullah, salah satunya sifat peduli.<\/p>\n\n\n\n \"Zaman sekarang kita krisis kepedulian, banyak pencitraan dan seremonial\".<\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Humas PKS Musi Rawas<\/p>\n","post_title":"DPD PKS Musi Rawas Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dpd-pks-musi-rawas-peringati-maulid-nabi-muhammad-saw","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:38:00","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:38:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1584,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:24:53","post_date_gmt":"2022-10-31 10:24:53","post_content":"\n JAKARTA \u2013 Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kemarin (30\/10) bertemu dengan mantan Gubernur dua periode Jawa Barat Ahmad Heryawan di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera, Jalan TB Simatupang, Jakarta. Pertemuan ini merupakan bagian dari kegiatan pelatihan relawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang diinisiasi oleh Bidang Kesejahteraan Sosial DPP PKS.<\/p>\n\n\n\n Dalam sambutannya, Ahmad Heryawan mengatakan bahwa negara hadir untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Keamanan merupakan hasil dari tidak adanya rasa takut, sementara kesejahteraan diindkasikan dari tidak adanya rasa lapar. Menurut Kang Aher, panggilan akrab Wakil Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, jalan negara menuju kesejahteraan masih cukup jauh karena adanya persoalan yang belum terselesaikan baik dari hasil pembangunan saat ini yang berdampak pada masalah sosial maupun dari masalah eksternal.<\/p>\n\n\n\n \u201cAda 17 persen dari 88 juta kepala keluarga yang masih masuk kelompok pra sejahtera. Mengapa ini terjadi, karena salah satunya adalah rendahnya pendidikan. Dari 17 persen tersebut, 50 persen di antaranya lulusan sekolah dasar. Inillah persoalannya,\u201d ungkap Aher.<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n \"PKS akan menjadi perekat umat. Dengan peringatan maulid ini, kita mengingat kembali perjuangan Rasulullah dalam menghidupkan agama,\" jelasnya.<\/p>\n\n\n\n Ia berharap, dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad ini bisa meneladani sifat Rasulullah dan menghidupkan sunnah.<\/p>\n\n\n\n Sementara, anggota DPR RI Fraksi X PKS, Mustafa Kamal, dalam sambutan menceritakan perjalanan Rasulullah dalam menyempurnakan akhlak mulia manusia.<\/p>\n\n\n\n Dimana, akhlak mulia sendiri sudah menjadi aturan di Indonesia dan tercantum dalam Undang-undang.<\/p>\n\n\n\n Kemudian, pada tausiyah, Ustadz Azhami Johani menyampaikan saat ini sudah banyak orang pintar, tapi tidak sedikit yang akhlaknya jahiliah.<\/p>\n\n\n\n \"Sekarang ini kejahiliahan kontemporer. Yang paling penting adalah akhlak, sejauh mana kita mencontoh Nabi. Zaman sekarang kita ini isalam tapi kadang tidak islami,\" katanya.<\/p>\n\n\n\n Dimomen Maulid Nabi Muhammad ini, Ustadz Azhami mengajak hadirin untuk mencontoh sifat Rasulullah, salah satunya sifat peduli.<\/p>\n\n\n\n \"Zaman sekarang kita krisis kepedulian, banyak pencitraan dan seremonial\".<\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Humas PKS Musi Rawas<\/p>\n","post_title":"DPD PKS Musi Rawas Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dpd-pks-musi-rawas-peringati-maulid-nabi-muhammad-saw","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:38:00","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:38:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1584,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:24:53","post_date_gmt":"2022-10-31 10:24:53","post_content":"\n JAKARTA \u2013 Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kemarin (30\/10) bertemu dengan mantan Gubernur dua periode Jawa Barat Ahmad Heryawan di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera, Jalan TB Simatupang, Jakarta. Pertemuan ini merupakan bagian dari kegiatan pelatihan relawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang diinisiasi oleh Bidang Kesejahteraan Sosial DPP PKS.<\/p>\n\n\n\n Dalam sambutannya, Ahmad Heryawan mengatakan bahwa negara hadir untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Keamanan merupakan hasil dari tidak adanya rasa takut, sementara kesejahteraan diindkasikan dari tidak adanya rasa lapar. Menurut Kang Aher, panggilan akrab Wakil Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, jalan negara menuju kesejahteraan masih cukup jauh karena adanya persoalan yang belum terselesaikan baik dari hasil pembangunan saat ini yang berdampak pada masalah sosial maupun dari masalah eksternal.<\/p>\n\n\n\n \u201cAda 17 persen dari 88 juta kepala keluarga yang masih masuk kelompok pra sejahtera. Mengapa ini terjadi, karena salah satunya adalah rendahnya pendidikan. Dari 17 persen tersebut, 50 persen di antaranya lulusan sekolah dasar. Inillah persoalannya,\u201d ungkap Aher.<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n Acara Maulid Nabi Muhammad yang diselenggarakan PKS itu, jelas Suhari, sesuai instruksi DPP PKS yang harus diselenggarakan tiap daerah kepengurusan.<\/p>\n\n\n\n \"PKS akan menjadi perekat umat. Dengan peringatan maulid ini, kita mengingat kembali perjuangan Rasulullah dalam menghidupkan agama,\" jelasnya.<\/p>\n\n\n\n Ia berharap, dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad ini bisa meneladani sifat Rasulullah dan menghidupkan sunnah.<\/p>\n\n\n\n Sementara, anggota DPR RI Fraksi X PKS, Mustafa Kamal, dalam sambutan menceritakan perjalanan Rasulullah dalam menyempurnakan akhlak mulia manusia.<\/p>\n\n\n\n Dimana, akhlak mulia sendiri sudah menjadi aturan di Indonesia dan tercantum dalam Undang-undang.<\/p>\n\n\n\n Kemudian, pada tausiyah, Ustadz Azhami Johani menyampaikan saat ini sudah banyak orang pintar, tapi tidak sedikit yang akhlaknya jahiliah.<\/p>\n\n\n\n \"Sekarang ini kejahiliahan kontemporer. Yang paling penting adalah akhlak, sejauh mana kita mencontoh Nabi. Zaman sekarang kita ini isalam tapi kadang tidak islami,\" katanya.<\/p>\n\n\n\n Dimomen Maulid Nabi Muhammad ini, Ustadz Azhami mengajak hadirin untuk mencontoh sifat Rasulullah, salah satunya sifat peduli.<\/p>\n\n\n\n \"Zaman sekarang kita krisis kepedulian, banyak pencitraan dan seremonial\".<\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Humas PKS Musi Rawas<\/p>\n","post_title":"DPD PKS Musi Rawas Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dpd-pks-musi-rawas-peringati-maulid-nabi-muhammad-saw","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:38:00","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:38:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1584,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:24:53","post_date_gmt":"2022-10-31 10:24:53","post_content":"\n JAKARTA \u2013 Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kemarin (30\/10) bertemu dengan mantan Gubernur dua periode Jawa Barat Ahmad Heryawan di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera, Jalan TB Simatupang, Jakarta. Pertemuan ini merupakan bagian dari kegiatan pelatihan relawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang diinisiasi oleh Bidang Kesejahteraan Sosial DPP PKS.<\/p>\n\n\n\n Dalam sambutannya, Ahmad Heryawan mengatakan bahwa negara hadir untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Keamanan merupakan hasil dari tidak adanya rasa takut, sementara kesejahteraan diindkasikan dari tidak adanya rasa lapar. Menurut Kang Aher, panggilan akrab Wakil Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, jalan negara menuju kesejahteraan masih cukup jauh karena adanya persoalan yang belum terselesaikan baik dari hasil pembangunan saat ini yang berdampak pada masalah sosial maupun dari masalah eksternal.<\/p>\n\n\n\n \u201cAda 17 persen dari 88 juta kepala keluarga yang masih masuk kelompok pra sejahtera. Mengapa ini terjadi, karena salah satunya adalah rendahnya pendidikan. Dari 17 persen tersebut, 50 persen di antaranya lulusan sekolah dasar. Inillah persoalannya,\u201d ungkap Aher.<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n \"Terimakasih atas kehadirannya sudah menyempatkan waktu hadir disini, semoga menjadi amal shaleh,\" ujarnya.<\/p>\n\n\n\n Acara Maulid Nabi Muhammad yang diselenggarakan PKS itu, jelas Suhari, sesuai instruksi DPP PKS yang harus diselenggarakan tiap daerah kepengurusan.<\/p>\n\n\n\n \"PKS akan menjadi perekat umat. Dengan peringatan maulid ini, kita mengingat kembali perjuangan Rasulullah dalam menghidupkan agama,\" jelasnya.<\/p>\n\n\n\n Ia berharap, dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad ini bisa meneladani sifat Rasulullah dan menghidupkan sunnah.<\/p>\n\n\n\n Sementara, anggota DPR RI Fraksi X PKS, Mustafa Kamal, dalam sambutan menceritakan perjalanan Rasulullah dalam menyempurnakan akhlak mulia manusia.<\/p>\n\n\n\n Dimana, akhlak mulia sendiri sudah menjadi aturan di Indonesia dan tercantum dalam Undang-undang.<\/p>\n\n\n\n Kemudian, pada tausiyah, Ustadz Azhami Johani menyampaikan saat ini sudah banyak orang pintar, tapi tidak sedikit yang akhlaknya jahiliah.<\/p>\n\n\n\n \"Sekarang ini kejahiliahan kontemporer. Yang paling penting adalah akhlak, sejauh mana kita mencontoh Nabi. Zaman sekarang kita ini isalam tapi kadang tidak islami,\" katanya.<\/p>\n\n\n\n Dimomen Maulid Nabi Muhammad ini, Ustadz Azhami mengajak hadirin untuk mencontoh sifat Rasulullah, salah satunya sifat peduli.<\/p>\n\n\n\n \"Zaman sekarang kita krisis kepedulian, banyak pencitraan dan seremonial\".<\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Humas PKS Musi Rawas<\/p>\n","post_title":"DPD PKS Musi Rawas Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dpd-pks-musi-rawas-peringati-maulid-nabi-muhammad-saw","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:38:00","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:38:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1584,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:24:53","post_date_gmt":"2022-10-31 10:24:53","post_content":"\n JAKARTA \u2013 Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kemarin (30\/10) bertemu dengan mantan Gubernur dua periode Jawa Barat Ahmad Heryawan di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera, Jalan TB Simatupang, Jakarta. Pertemuan ini merupakan bagian dari kegiatan pelatihan relawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang diinisiasi oleh Bidang Kesejahteraan Sosial DPP PKS.<\/p>\n\n\n\n Dalam sambutannya, Ahmad Heryawan mengatakan bahwa negara hadir untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Keamanan merupakan hasil dari tidak adanya rasa takut, sementara kesejahteraan diindkasikan dari tidak adanya rasa lapar. Menurut Kang Aher, panggilan akrab Wakil Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, jalan negara menuju kesejahteraan masih cukup jauh karena adanya persoalan yang belum terselesaikan baik dari hasil pembangunan saat ini yang berdampak pada masalah sosial maupun dari masalah eksternal.<\/p>\n\n\n\n \u201cAda 17 persen dari 88 juta kepala keluarga yang masih masuk kelompok pra sejahtera. Mengapa ini terjadi, karena salah satunya adalah rendahnya pendidikan. Dari 17 persen tersebut, 50 persen di antaranya lulusan sekolah dasar. Inillah persoalannya,\u201d ungkap Aher.<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n Ketua DPD PKS Mura Suhari, dalam sambutan menyampaikan terimakasih kepada segenap yang hadir karena sudah memenuhi undangan DPD PKS Mura dalan rangka Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. <\/p>\n\n\n\n \"Terimakasih atas kehadirannya sudah menyempatkan waktu hadir disini, semoga menjadi amal shaleh,\" ujarnya.<\/p>\n\n\n\n Acara Maulid Nabi Muhammad yang diselenggarakan PKS itu, jelas Suhari, sesuai instruksi DPP PKS yang harus diselenggarakan tiap daerah kepengurusan.<\/p>\n\n\n\n \"PKS akan menjadi perekat umat. Dengan peringatan maulid ini, kita mengingat kembali perjuangan Rasulullah dalam menghidupkan agama,\" jelasnya.<\/p>\n\n\n\n Ia berharap, dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad ini bisa meneladani sifat Rasulullah dan menghidupkan sunnah.<\/p>\n\n\n\n Sementara, anggota DPR RI Fraksi X PKS, Mustafa Kamal, dalam sambutan menceritakan perjalanan Rasulullah dalam menyempurnakan akhlak mulia manusia.<\/p>\n\n\n\n Dimana, akhlak mulia sendiri sudah menjadi aturan di Indonesia dan tercantum dalam Undang-undang.<\/p>\n\n\n\n Kemudian, pada tausiyah, Ustadz Azhami Johani menyampaikan saat ini sudah banyak orang pintar, tapi tidak sedikit yang akhlaknya jahiliah.<\/p>\n\n\n\n \"Sekarang ini kejahiliahan kontemporer. Yang paling penting adalah akhlak, sejauh mana kita mencontoh Nabi. Zaman sekarang kita ini isalam tapi kadang tidak islami,\" katanya.<\/p>\n\n\n\n Dimomen Maulid Nabi Muhammad ini, Ustadz Azhami mengajak hadirin untuk mencontoh sifat Rasulullah, salah satunya sifat peduli.<\/p>\n\n\n\n \"Zaman sekarang kita krisis kepedulian, banyak pencitraan dan seremonial\".<\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Humas PKS Musi Rawas<\/p>\n","post_title":"DPD PKS Musi Rawas Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dpd-pks-musi-rawas-peringati-maulid-nabi-muhammad-saw","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:38:00","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:38:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1584,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:24:53","post_date_gmt":"2022-10-31 10:24:53","post_content":"\n JAKARTA \u2013 Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kemarin (30\/10) bertemu dengan mantan Gubernur dua periode Jawa Barat Ahmad Heryawan di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera, Jalan TB Simatupang, Jakarta. Pertemuan ini merupakan bagian dari kegiatan pelatihan relawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang diinisiasi oleh Bidang Kesejahteraan Sosial DPP PKS.<\/p>\n\n\n\n Dalam sambutannya, Ahmad Heryawan mengatakan bahwa negara hadir untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Keamanan merupakan hasil dari tidak adanya rasa takut, sementara kesejahteraan diindkasikan dari tidak adanya rasa lapar. Menurut Kang Aher, panggilan akrab Wakil Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, jalan negara menuju kesejahteraan masih cukup jauh karena adanya persoalan yang belum terselesaikan baik dari hasil pembangunan saat ini yang berdampak pada masalah sosial maupun dari masalah eksternal.<\/p>\n\n\n\n \u201cAda 17 persen dari 88 juta kepala keluarga yang masih masuk kelompok pra sejahtera. Mengapa ini terjadi, karena salah satunya adalah rendahnya pendidikan. Dari 17 persen tersebut, 50 persen di antaranya lulusan sekolah dasar. Inillah persoalannya,\u201d ungkap Aher.<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n Hadir dalam acara itu anggota DPR RI Fraksi PKS, Mustafa Kamal, SS., anggota DPRD Sumatera Selatan (Sumsel) Fraksi PKS, Subhan, SE., Ketua DPD PKS Mura, Suhari, S. Pt. Ketua Dewan Etik Daerah PKS Mura yang juga Pimpinan Rumah Tahfidz Al-Ihzah Muara Kelingi, Iwan Susanto, S. Pd. I., Kades Tegal Rejo, Agus Salim, Penceramah, Ustadz Azhami Johani, S. P.d. I. dan segenap tamu undangan.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPD PKS Mura Suhari, dalam sambutan menyampaikan terimakasih kepada segenap yang hadir karena sudah memenuhi undangan DPD PKS Mura dalan rangka Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. <\/p>\n\n\n\n \"Terimakasih atas kehadirannya sudah menyempatkan waktu hadir disini, semoga menjadi amal shaleh,\" ujarnya.<\/p>\n\n\n\n Acara Maulid Nabi Muhammad yang diselenggarakan PKS itu, jelas Suhari, sesuai instruksi DPP PKS yang harus diselenggarakan tiap daerah kepengurusan.<\/p>\n\n\n\n \"PKS akan menjadi perekat umat. Dengan peringatan maulid ini, kita mengingat kembali perjuangan Rasulullah dalam menghidupkan agama,\" jelasnya.<\/p>\n\n\n\n Ia berharap, dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad ini bisa meneladani sifat Rasulullah dan menghidupkan sunnah.<\/p>\n\n\n\n Sementara, anggota DPR RI Fraksi X PKS, Mustafa Kamal, dalam sambutan menceritakan perjalanan Rasulullah dalam menyempurnakan akhlak mulia manusia.<\/p>\n\n\n\n Dimana, akhlak mulia sendiri sudah menjadi aturan di Indonesia dan tercantum dalam Undang-undang.<\/p>\n\n\n\n Kemudian, pada tausiyah, Ustadz Azhami Johani menyampaikan saat ini sudah banyak orang pintar, tapi tidak sedikit yang akhlaknya jahiliah.<\/p>\n\n\n\n \"Sekarang ini kejahiliahan kontemporer. Yang paling penting adalah akhlak, sejauh mana kita mencontoh Nabi. Zaman sekarang kita ini isalam tapi kadang tidak islami,\" katanya.<\/p>\n\n\n\n Dimomen Maulid Nabi Muhammad ini, Ustadz Azhami mengajak hadirin untuk mencontoh sifat Rasulullah, salah satunya sifat peduli.<\/p>\n\n\n\n \"Zaman sekarang kita krisis kepedulian, banyak pencitraan dan seremonial\".<\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Humas PKS Musi Rawas<\/p>\n","post_title":"DPD PKS Musi Rawas Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dpd-pks-musi-rawas-peringati-maulid-nabi-muhammad-saw","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:38:00","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:38:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1584,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:24:53","post_date_gmt":"2022-10-31 10:24:53","post_content":"\n JAKARTA \u2013 Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kemarin (30\/10) bertemu dengan mantan Gubernur dua periode Jawa Barat Ahmad Heryawan di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera, Jalan TB Simatupang, Jakarta. Pertemuan ini merupakan bagian dari kegiatan pelatihan relawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang diinisiasi oleh Bidang Kesejahteraan Sosial DPP PKS.<\/p>\n\n\n\n Dalam sambutannya, Ahmad Heryawan mengatakan bahwa negara hadir untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Keamanan merupakan hasil dari tidak adanya rasa takut, sementara kesejahteraan diindkasikan dari tidak adanya rasa lapar. Menurut Kang Aher, panggilan akrab Wakil Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, jalan negara menuju kesejahteraan masih cukup jauh karena adanya persoalan yang belum terselesaikan baik dari hasil pembangunan saat ini yang berdampak pada masalah sosial maupun dari masalah eksternal.<\/p>\n\n\n\n \u201cAda 17 persen dari 88 juta kepala keluarga yang masih masuk kelompok pra sejahtera. Mengapa ini terjadi, karena salah satunya adalah rendahnya pendidikan. Dari 17 persen tersebut, 50 persen di antaranya lulusan sekolah dasar. Inillah persoalannya,\u201d ungkap Aher.<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n MUSI RAWAS<\/strong> - DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Musi Rawas (Mura) menggelar acara Memperingati Maulid Nabi Muhammad, di Sekretariat DPD PKS Mura, Sabtu (22\/10).<\/p>\n\n\n\n Hadir dalam acara itu anggota DPR RI Fraksi PKS, Mustafa Kamal, SS., anggota DPRD Sumatera Selatan (Sumsel) Fraksi PKS, Subhan, SE., Ketua DPD PKS Mura, Suhari, S. Pt. Ketua Dewan Etik Daerah PKS Mura yang juga Pimpinan Rumah Tahfidz Al-Ihzah Muara Kelingi, Iwan Susanto, S. Pd. I., Kades Tegal Rejo, Agus Salim, Penceramah, Ustadz Azhami Johani, S. P.d. I. dan segenap tamu undangan.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPD PKS Mura Suhari, dalam sambutan menyampaikan terimakasih kepada segenap yang hadir karena sudah memenuhi undangan DPD PKS Mura dalan rangka Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. <\/p>\n\n\n\n \"Terimakasih atas kehadirannya sudah menyempatkan waktu hadir disini, semoga menjadi amal shaleh,\" ujarnya.<\/p>\n\n\n\n Acara Maulid Nabi Muhammad yang diselenggarakan PKS itu, jelas Suhari, sesuai instruksi DPP PKS yang harus diselenggarakan tiap daerah kepengurusan.<\/p>\n\n\n\n \"PKS akan menjadi perekat umat. Dengan peringatan maulid ini, kita mengingat kembali perjuangan Rasulullah dalam menghidupkan agama,\" jelasnya.<\/p>\n\n\n\n Ia berharap, dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad ini bisa meneladani sifat Rasulullah dan menghidupkan sunnah.<\/p>\n\n\n\n Sementara, anggota DPR RI Fraksi X PKS, Mustafa Kamal, dalam sambutan menceritakan perjalanan Rasulullah dalam menyempurnakan akhlak mulia manusia.<\/p>\n\n\n\n Dimana, akhlak mulia sendiri sudah menjadi aturan di Indonesia dan tercantum dalam Undang-undang.<\/p>\n\n\n\n Kemudian, pada tausiyah, Ustadz Azhami Johani menyampaikan saat ini sudah banyak orang pintar, tapi tidak sedikit yang akhlaknya jahiliah.<\/p>\n\n\n\n \"Sekarang ini kejahiliahan kontemporer. Yang paling penting adalah akhlak, sejauh mana kita mencontoh Nabi. Zaman sekarang kita ini isalam tapi kadang tidak islami,\" katanya.<\/p>\n\n\n\n Dimomen Maulid Nabi Muhammad ini, Ustadz Azhami mengajak hadirin untuk mencontoh sifat Rasulullah, salah satunya sifat peduli.<\/p>\n\n\n\n \"Zaman sekarang kita krisis kepedulian, banyak pencitraan dan seremonial\".<\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Humas PKS Musi Rawas<\/p>\n","post_title":"DPD PKS Musi Rawas Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dpd-pks-musi-rawas-peringati-maulid-nabi-muhammad-saw","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:38:00","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:38:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1584,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:24:53","post_date_gmt":"2022-10-31 10:24:53","post_content":"\n JAKARTA \u2013 Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kemarin (30\/10) bertemu dengan mantan Gubernur dua periode Jawa Barat Ahmad Heryawan di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera, Jalan TB Simatupang, Jakarta. Pertemuan ini merupakan bagian dari kegiatan pelatihan relawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang diinisiasi oleh Bidang Kesejahteraan Sosial DPP PKS.<\/p>\n\n\n\n Dalam sambutannya, Ahmad Heryawan mengatakan bahwa negara hadir untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Keamanan merupakan hasil dari tidak adanya rasa takut, sementara kesejahteraan diindkasikan dari tidak adanya rasa lapar. Menurut Kang Aher, panggilan akrab Wakil Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, jalan negara menuju kesejahteraan masih cukup jauh karena adanya persoalan yang belum terselesaikan baik dari hasil pembangunan saat ini yang berdampak pada masalah sosial maupun dari masalah eksternal.<\/p>\n\n\n\n \u201cAda 17 persen dari 88 juta kepala keluarga yang masih masuk kelompok pra sejahtera. Mengapa ini terjadi, karena salah satunya adalah rendahnya pendidikan. Dari 17 persen tersebut, 50 persen di antaranya lulusan sekolah dasar. Inillah persoalannya,\u201d ungkap Aher.<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n Sumber : SRIPOKU.com<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dilantik Jadi PAW DPRD Mura, Sri Sunarsih Mengaku Perasaannya Campur Aduk, Ingat Mendiang Suami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dilantik-jadi-paw-dprd-mura-sri-sunarsih-mengaku-perasaannya-campur-aduk-ingat-mendiang-suami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-11-01 07:29:07","post_modified_gmt":"2022-11-01 00:29:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1588,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:36:40","post_date_gmt":"2022-10-31 10:36:40","post_content":"\n MUSI RAWAS<\/strong> - DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Musi Rawas (Mura) menggelar acara Memperingati Maulid Nabi Muhammad, di Sekretariat DPD PKS Mura, Sabtu (22\/10).<\/p>\n\n\n\n Hadir dalam acara itu anggota DPR RI Fraksi PKS, Mustafa Kamal, SS., anggota DPRD Sumatera Selatan (Sumsel) Fraksi PKS, Subhan, SE., Ketua DPD PKS Mura, Suhari, S. Pt. Ketua Dewan Etik Daerah PKS Mura yang juga Pimpinan Rumah Tahfidz Al-Ihzah Muara Kelingi, Iwan Susanto, S. Pd. I., Kades Tegal Rejo, Agus Salim, Penceramah, Ustadz Azhami Johani, S. P.d. I. dan segenap tamu undangan.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPD PKS Mura Suhari, dalam sambutan menyampaikan terimakasih kepada segenap yang hadir karena sudah memenuhi undangan DPD PKS Mura dalan rangka Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. <\/p>\n\n\n\n \"Terimakasih atas kehadirannya sudah menyempatkan waktu hadir disini, semoga menjadi amal shaleh,\" ujarnya.<\/p>\n\n\n\n Acara Maulid Nabi Muhammad yang diselenggarakan PKS itu, jelas Suhari, sesuai instruksi DPP PKS yang harus diselenggarakan tiap daerah kepengurusan.<\/p>\n\n\n\n \"PKS akan menjadi perekat umat. Dengan peringatan maulid ini, kita mengingat kembali perjuangan Rasulullah dalam menghidupkan agama,\" jelasnya.<\/p>\n\n\n\n Ia berharap, dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad ini bisa meneladani sifat Rasulullah dan menghidupkan sunnah.<\/p>\n\n\n\n Sementara, anggota DPR RI Fraksi X PKS, Mustafa Kamal, dalam sambutan menceritakan perjalanan Rasulullah dalam menyempurnakan akhlak mulia manusia.<\/p>\n\n\n\n Dimana, akhlak mulia sendiri sudah menjadi aturan di Indonesia dan tercantum dalam Undang-undang.<\/p>\n\n\n\n Kemudian, pada tausiyah, Ustadz Azhami Johani menyampaikan saat ini sudah banyak orang pintar, tapi tidak sedikit yang akhlaknya jahiliah.<\/p>\n\n\n\n \"Sekarang ini kejahiliahan kontemporer. Yang paling penting adalah akhlak, sejauh mana kita mencontoh Nabi. Zaman sekarang kita ini isalam tapi kadang tidak islami,\" katanya.<\/p>\n\n\n\n Dimomen Maulid Nabi Muhammad ini, Ustadz Azhami mengajak hadirin untuk mencontoh sifat Rasulullah, salah satunya sifat peduli.<\/p>\n\n\n\n \"Zaman sekarang kita krisis kepedulian, banyak pencitraan dan seremonial\".<\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Humas PKS Musi Rawas<\/p>\n","post_title":"DPD PKS Musi Rawas Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dpd-pks-musi-rawas-peringati-maulid-nabi-muhammad-saw","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:38:00","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:38:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1584,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:24:53","post_date_gmt":"2022-10-31 10:24:53","post_content":"\n JAKARTA \u2013 Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kemarin (30\/10) bertemu dengan mantan Gubernur dua periode Jawa Barat Ahmad Heryawan di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera, Jalan TB Simatupang, Jakarta. Pertemuan ini merupakan bagian dari kegiatan pelatihan relawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang diinisiasi oleh Bidang Kesejahteraan Sosial DPP PKS.<\/p>\n\n\n\n Dalam sambutannya, Ahmad Heryawan mengatakan bahwa negara hadir untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Keamanan merupakan hasil dari tidak adanya rasa takut, sementara kesejahteraan diindkasikan dari tidak adanya rasa lapar. Menurut Kang Aher, panggilan akrab Wakil Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, jalan negara menuju kesejahteraan masih cukup jauh karena adanya persoalan yang belum terselesaikan baik dari hasil pembangunan saat ini yang berdampak pada masalah sosial maupun dari masalah eksternal.<\/p>\n\n\n\n \u201cAda 17 persen dari 88 juta kepala keluarga yang masih masuk kelompok pra sejahtera. Mengapa ini terjadi, karena salah satunya adalah rendahnya pendidikan. Dari 17 persen tersebut, 50 persen di antaranya lulusan sekolah dasar. Inillah persoalannya,\u201d ungkap Aher.<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Sumber : SRIPOKU.com<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dilantik Jadi PAW DPRD Mura, Sri Sunarsih Mengaku Perasaannya Campur Aduk, Ingat Mendiang Suami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dilantik-jadi-paw-dprd-mura-sri-sunarsih-mengaku-perasaannya-campur-aduk-ingat-mendiang-suami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-11-01 07:29:07","post_modified_gmt":"2022-11-01 00:29:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1588,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:36:40","post_date_gmt":"2022-10-31 10:36:40","post_content":"\n MUSI RAWAS<\/strong> - DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Musi Rawas (Mura) menggelar acara Memperingati Maulid Nabi Muhammad, di Sekretariat DPD PKS Mura, Sabtu (22\/10).<\/p>\n\n\n\n Hadir dalam acara itu anggota DPR RI Fraksi PKS, Mustafa Kamal, SS., anggota DPRD Sumatera Selatan (Sumsel) Fraksi PKS, Subhan, SE., Ketua DPD PKS Mura, Suhari, S. Pt. Ketua Dewan Etik Daerah PKS Mura yang juga Pimpinan Rumah Tahfidz Al-Ihzah Muara Kelingi, Iwan Susanto, S. Pd. I., Kades Tegal Rejo, Agus Salim, Penceramah, Ustadz Azhami Johani, S. P.d. I. dan segenap tamu undangan.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPD PKS Mura Suhari, dalam sambutan menyampaikan terimakasih kepada segenap yang hadir karena sudah memenuhi undangan DPD PKS Mura dalan rangka Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. <\/p>\n\n\n\n \"Terimakasih atas kehadirannya sudah menyempatkan waktu hadir disini, semoga menjadi amal shaleh,\" ujarnya.<\/p>\n\n\n\n Acara Maulid Nabi Muhammad yang diselenggarakan PKS itu, jelas Suhari, sesuai instruksi DPP PKS yang harus diselenggarakan tiap daerah kepengurusan.<\/p>\n\n\n\n \"PKS akan menjadi perekat umat. Dengan peringatan maulid ini, kita mengingat kembali perjuangan Rasulullah dalam menghidupkan agama,\" jelasnya.<\/p>\n\n\n\n Ia berharap, dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad ini bisa meneladani sifat Rasulullah dan menghidupkan sunnah.<\/p>\n\n\n\n Sementara, anggota DPR RI Fraksi X PKS, Mustafa Kamal, dalam sambutan menceritakan perjalanan Rasulullah dalam menyempurnakan akhlak mulia manusia.<\/p>\n\n\n\n Dimana, akhlak mulia sendiri sudah menjadi aturan di Indonesia dan tercantum dalam Undang-undang.<\/p>\n\n\n\n Kemudian, pada tausiyah, Ustadz Azhami Johani menyampaikan saat ini sudah banyak orang pintar, tapi tidak sedikit yang akhlaknya jahiliah.<\/p>\n\n\n\n \"Sekarang ini kejahiliahan kontemporer. Yang paling penting adalah akhlak, sejauh mana kita mencontoh Nabi. Zaman sekarang kita ini isalam tapi kadang tidak islami,\" katanya.<\/p>\n\n\n\n Dimomen Maulid Nabi Muhammad ini, Ustadz Azhami mengajak hadirin untuk mencontoh sifat Rasulullah, salah satunya sifat peduli.<\/p>\n\n\n\n \"Zaman sekarang kita krisis kepedulian, banyak pencitraan dan seremonial\".<\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Humas PKS Musi Rawas<\/p>\n","post_title":"DPD PKS Musi Rawas Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dpd-pks-musi-rawas-peringati-maulid-nabi-muhammad-saw","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:38:00","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:38:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1584,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:24:53","post_date_gmt":"2022-10-31 10:24:53","post_content":"\n JAKARTA \u2013 Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kemarin (30\/10) bertemu dengan mantan Gubernur dua periode Jawa Barat Ahmad Heryawan di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera, Jalan TB Simatupang, Jakarta. Pertemuan ini merupakan bagian dari kegiatan pelatihan relawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang diinisiasi oleh Bidang Kesejahteraan Sosial DPP PKS.<\/p>\n\n\n\n Dalam sambutannya, Ahmad Heryawan mengatakan bahwa negara hadir untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Keamanan merupakan hasil dari tidak adanya rasa takut, sementara kesejahteraan diindkasikan dari tidak adanya rasa lapar. Menurut Kang Aher, panggilan akrab Wakil Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, jalan negara menuju kesejahteraan masih cukup jauh karena adanya persoalan yang belum terselesaikan baik dari hasil pembangunan saat ini yang berdampak pada masalah sosial maupun dari masalah eksternal.<\/p>\n\n\n\n \u201cAda 17 persen dari 88 juta kepala keluarga yang masih masuk kelompok pra sejahtera. Mengapa ini terjadi, karena salah satunya adalah rendahnya pendidikan. Dari 17 persen tersebut, 50 persen di antaranya lulusan sekolah dasar. Inillah persoalannya,\u201d ungkap Aher.<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n <\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Sumber : SRIPOKU.com<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dilantik Jadi PAW DPRD Mura, Sri Sunarsih Mengaku Perasaannya Campur Aduk, Ingat Mendiang Suami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dilantik-jadi-paw-dprd-mura-sri-sunarsih-mengaku-perasaannya-campur-aduk-ingat-mendiang-suami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-11-01 07:29:07","post_modified_gmt":"2022-11-01 00:29:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1588,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:36:40","post_date_gmt":"2022-10-31 10:36:40","post_content":"\n MUSI RAWAS<\/strong> - DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Musi Rawas (Mura) menggelar acara Memperingati Maulid Nabi Muhammad, di Sekretariat DPD PKS Mura, Sabtu (22\/10).<\/p>\n\n\n\n Hadir dalam acara itu anggota DPR RI Fraksi PKS, Mustafa Kamal, SS., anggota DPRD Sumatera Selatan (Sumsel) Fraksi PKS, Subhan, SE., Ketua DPD PKS Mura, Suhari, S. Pt. Ketua Dewan Etik Daerah PKS Mura yang juga Pimpinan Rumah Tahfidz Al-Ihzah Muara Kelingi, Iwan Susanto, S. Pd. I., Kades Tegal Rejo, Agus Salim, Penceramah, Ustadz Azhami Johani, S. P.d. I. dan segenap tamu undangan.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPD PKS Mura Suhari, dalam sambutan menyampaikan terimakasih kepada segenap yang hadir karena sudah memenuhi undangan DPD PKS Mura dalan rangka Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. <\/p>\n\n\n\n \"Terimakasih atas kehadirannya sudah menyempatkan waktu hadir disini, semoga menjadi amal shaleh,\" ujarnya.<\/p>\n\n\n\n Acara Maulid Nabi Muhammad yang diselenggarakan PKS itu, jelas Suhari, sesuai instruksi DPP PKS yang harus diselenggarakan tiap daerah kepengurusan.<\/p>\n\n\n\n \"PKS akan menjadi perekat umat. Dengan peringatan maulid ini, kita mengingat kembali perjuangan Rasulullah dalam menghidupkan agama,\" jelasnya.<\/p>\n\n\n\n Ia berharap, dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad ini bisa meneladani sifat Rasulullah dan menghidupkan sunnah.<\/p>\n\n\n\n Sementara, anggota DPR RI Fraksi X PKS, Mustafa Kamal, dalam sambutan menceritakan perjalanan Rasulullah dalam menyempurnakan akhlak mulia manusia.<\/p>\n\n\n\n Dimana, akhlak mulia sendiri sudah menjadi aturan di Indonesia dan tercantum dalam Undang-undang.<\/p>\n\n\n\n Kemudian, pada tausiyah, Ustadz Azhami Johani menyampaikan saat ini sudah banyak orang pintar, tapi tidak sedikit yang akhlaknya jahiliah.<\/p>\n\n\n\n \"Sekarang ini kejahiliahan kontemporer. Yang paling penting adalah akhlak, sejauh mana kita mencontoh Nabi. Zaman sekarang kita ini isalam tapi kadang tidak islami,\" katanya.<\/p>\n\n\n\n Dimomen Maulid Nabi Muhammad ini, Ustadz Azhami mengajak hadirin untuk mencontoh sifat Rasulullah, salah satunya sifat peduli.<\/p>\n\n\n\n \"Zaman sekarang kita krisis kepedulian, banyak pencitraan dan seremonial\".<\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Humas PKS Musi Rawas<\/p>\n","post_title":"DPD PKS Musi Rawas Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dpd-pks-musi-rawas-peringati-maulid-nabi-muhammad-saw","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:38:00","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:38:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1584,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:24:53","post_date_gmt":"2022-10-31 10:24:53","post_content":"\n JAKARTA \u2013 Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kemarin (30\/10) bertemu dengan mantan Gubernur dua periode Jawa Barat Ahmad Heryawan di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera, Jalan TB Simatupang, Jakarta. Pertemuan ini merupakan bagian dari kegiatan pelatihan relawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang diinisiasi oleh Bidang Kesejahteraan Sosial DPP PKS.<\/p>\n\n\n\n Dalam sambutannya, Ahmad Heryawan mengatakan bahwa negara hadir untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Keamanan merupakan hasil dari tidak adanya rasa takut, sementara kesejahteraan diindkasikan dari tidak adanya rasa lapar. Menurut Kang Aher, panggilan akrab Wakil Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, jalan negara menuju kesejahteraan masih cukup jauh karena adanya persoalan yang belum terselesaikan baik dari hasil pembangunan saat ini yang berdampak pada masalah sosial maupun dari masalah eksternal.<\/p>\n\n\n\n \u201cAda 17 persen dari 88 juta kepala keluarga yang masih masuk kelompok pra sejahtera. Mengapa ini terjadi, karena salah satunya adalah rendahnya pendidikan. Dari 17 persen tersebut, 50 persen di antaranya lulusan sekolah dasar. Inillah persoalannya,\u201d ungkap Aher.<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n Ketua DPRD Mura, Azandri mengucapkan terimakasih atas sumbangsinya yang diberikan Supandi selama aktif menjadi anggota DPRD Kabupaten Mura.<\/p>\n\n\n\n <\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Sumber : SRIPOKU.com<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dilantik Jadi PAW DPRD Mura, Sri Sunarsih Mengaku Perasaannya Campur Aduk, Ingat Mendiang Suami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dilantik-jadi-paw-dprd-mura-sri-sunarsih-mengaku-perasaannya-campur-aduk-ingat-mendiang-suami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-11-01 07:29:07","post_modified_gmt":"2022-11-01 00:29:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1588,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:36:40","post_date_gmt":"2022-10-31 10:36:40","post_content":"\n MUSI RAWAS<\/strong> - DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Musi Rawas (Mura) menggelar acara Memperingati Maulid Nabi Muhammad, di Sekretariat DPD PKS Mura, Sabtu (22\/10).<\/p>\n\n\n\n Hadir dalam acara itu anggota DPR RI Fraksi PKS, Mustafa Kamal, SS., anggota DPRD Sumatera Selatan (Sumsel) Fraksi PKS, Subhan, SE., Ketua DPD PKS Mura, Suhari, S. Pt. Ketua Dewan Etik Daerah PKS Mura yang juga Pimpinan Rumah Tahfidz Al-Ihzah Muara Kelingi, Iwan Susanto, S. Pd. I., Kades Tegal Rejo, Agus Salim, Penceramah, Ustadz Azhami Johani, S. P.d. I. dan segenap tamu undangan.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPD PKS Mura Suhari, dalam sambutan menyampaikan terimakasih kepada segenap yang hadir karena sudah memenuhi undangan DPD PKS Mura dalan rangka Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. <\/p>\n\n\n\n \"Terimakasih atas kehadirannya sudah menyempatkan waktu hadir disini, semoga menjadi amal shaleh,\" ujarnya.<\/p>\n\n\n\n Acara Maulid Nabi Muhammad yang diselenggarakan PKS itu, jelas Suhari, sesuai instruksi DPP PKS yang harus diselenggarakan tiap daerah kepengurusan.<\/p>\n\n\n\n \"PKS akan menjadi perekat umat. Dengan peringatan maulid ini, kita mengingat kembali perjuangan Rasulullah dalam menghidupkan agama,\" jelasnya.<\/p>\n\n\n\n Ia berharap, dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad ini bisa meneladani sifat Rasulullah dan menghidupkan sunnah.<\/p>\n\n\n\n Sementara, anggota DPR RI Fraksi X PKS, Mustafa Kamal, dalam sambutan menceritakan perjalanan Rasulullah dalam menyempurnakan akhlak mulia manusia.<\/p>\n\n\n\n Dimana, akhlak mulia sendiri sudah menjadi aturan di Indonesia dan tercantum dalam Undang-undang.<\/p>\n\n\n\n Kemudian, pada tausiyah, Ustadz Azhami Johani menyampaikan saat ini sudah banyak orang pintar, tapi tidak sedikit yang akhlaknya jahiliah.<\/p>\n\n\n\n \"Sekarang ini kejahiliahan kontemporer. Yang paling penting adalah akhlak, sejauh mana kita mencontoh Nabi. Zaman sekarang kita ini isalam tapi kadang tidak islami,\" katanya.<\/p>\n\n\n\n Dimomen Maulid Nabi Muhammad ini, Ustadz Azhami mengajak hadirin untuk mencontoh sifat Rasulullah, salah satunya sifat peduli.<\/p>\n\n\n\n \"Zaman sekarang kita krisis kepedulian, banyak pencitraan dan seremonial\".<\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Humas PKS Musi Rawas<\/p>\n","post_title":"DPD PKS Musi Rawas Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dpd-pks-musi-rawas-peringati-maulid-nabi-muhammad-saw","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:38:00","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:38:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1584,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:24:53","post_date_gmt":"2022-10-31 10:24:53","post_content":"\n JAKARTA \u2013 Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kemarin (30\/10) bertemu dengan mantan Gubernur dua periode Jawa Barat Ahmad Heryawan di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera, Jalan TB Simatupang, Jakarta. Pertemuan ini merupakan bagian dari kegiatan pelatihan relawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang diinisiasi oleh Bidang Kesejahteraan Sosial DPP PKS.<\/p>\n\n\n\n Dalam sambutannya, Ahmad Heryawan mengatakan bahwa negara hadir untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Keamanan merupakan hasil dari tidak adanya rasa takut, sementara kesejahteraan diindkasikan dari tidak adanya rasa lapar. Menurut Kang Aher, panggilan akrab Wakil Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, jalan negara menuju kesejahteraan masih cukup jauh karena adanya persoalan yang belum terselesaikan baik dari hasil pembangunan saat ini yang berdampak pada masalah sosial maupun dari masalah eksternal.<\/p>\n\n\n\n \u201cAda 17 persen dari 88 juta kepala keluarga yang masih masuk kelompok pra sejahtera. Mengapa ini terjadi, karena salah satunya adalah rendahnya pendidikan. Dari 17 persen tersebut, 50 persen di antaranya lulusan sekolah dasar. Inillah persoalannya,\u201d ungkap Aher.<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n Bupati juga mengucapkan kepada Supandi, atas sumbangsinya yang diberikan selama menjadi mitra Pemkab Mura.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPRD Mura, Azandri mengucapkan terimakasih atas sumbangsinya yang diberikan Supandi selama aktif menjadi anggota DPRD Kabupaten Mura.<\/p>\n\n\n\n <\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Sumber : SRIPOKU.com<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dilantik Jadi PAW DPRD Mura, Sri Sunarsih Mengaku Perasaannya Campur Aduk, Ingat Mendiang Suami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dilantik-jadi-paw-dprd-mura-sri-sunarsih-mengaku-perasaannya-campur-aduk-ingat-mendiang-suami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-11-01 07:29:07","post_modified_gmt":"2022-11-01 00:29:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1588,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:36:40","post_date_gmt":"2022-10-31 10:36:40","post_content":"\n MUSI RAWAS<\/strong> - DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Musi Rawas (Mura) menggelar acara Memperingati Maulid Nabi Muhammad, di Sekretariat DPD PKS Mura, Sabtu (22\/10).<\/p>\n\n\n\n Hadir dalam acara itu anggota DPR RI Fraksi PKS, Mustafa Kamal, SS., anggota DPRD Sumatera Selatan (Sumsel) Fraksi PKS, Subhan, SE., Ketua DPD PKS Mura, Suhari, S. Pt. Ketua Dewan Etik Daerah PKS Mura yang juga Pimpinan Rumah Tahfidz Al-Ihzah Muara Kelingi, Iwan Susanto, S. Pd. I., Kades Tegal Rejo, Agus Salim, Penceramah, Ustadz Azhami Johani, S. P.d. I. dan segenap tamu undangan.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPD PKS Mura Suhari, dalam sambutan menyampaikan terimakasih kepada segenap yang hadir karena sudah memenuhi undangan DPD PKS Mura dalan rangka Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. <\/p>\n\n\n\n \"Terimakasih atas kehadirannya sudah menyempatkan waktu hadir disini, semoga menjadi amal shaleh,\" ujarnya.<\/p>\n\n\n\n Acara Maulid Nabi Muhammad yang diselenggarakan PKS itu, jelas Suhari, sesuai instruksi DPP PKS yang harus diselenggarakan tiap daerah kepengurusan.<\/p>\n\n\n\n \"PKS akan menjadi perekat umat. Dengan peringatan maulid ini, kita mengingat kembali perjuangan Rasulullah dalam menghidupkan agama,\" jelasnya.<\/p>\n\n\n\n Ia berharap, dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad ini bisa meneladani sifat Rasulullah dan menghidupkan sunnah.<\/p>\n\n\n\n Sementara, anggota DPR RI Fraksi X PKS, Mustafa Kamal, dalam sambutan menceritakan perjalanan Rasulullah dalam menyempurnakan akhlak mulia manusia.<\/p>\n\n\n\n Dimana, akhlak mulia sendiri sudah menjadi aturan di Indonesia dan tercantum dalam Undang-undang.<\/p>\n\n\n\n Kemudian, pada tausiyah, Ustadz Azhami Johani menyampaikan saat ini sudah banyak orang pintar, tapi tidak sedikit yang akhlaknya jahiliah.<\/p>\n\n\n\n \"Sekarang ini kejahiliahan kontemporer. Yang paling penting adalah akhlak, sejauh mana kita mencontoh Nabi. Zaman sekarang kita ini isalam tapi kadang tidak islami,\" katanya.<\/p>\n\n\n\n Dimomen Maulid Nabi Muhammad ini, Ustadz Azhami mengajak hadirin untuk mencontoh sifat Rasulullah, salah satunya sifat peduli.<\/p>\n\n\n\n \"Zaman sekarang kita krisis kepedulian, banyak pencitraan dan seremonial\".<\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Humas PKS Musi Rawas<\/p>\n","post_title":"DPD PKS Musi Rawas Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dpd-pks-musi-rawas-peringati-maulid-nabi-muhammad-saw","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:38:00","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:38:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1584,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:24:53","post_date_gmt":"2022-10-31 10:24:53","post_content":"\n JAKARTA \u2013 Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kemarin (30\/10) bertemu dengan mantan Gubernur dua periode Jawa Barat Ahmad Heryawan di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera, Jalan TB Simatupang, Jakarta. Pertemuan ini merupakan bagian dari kegiatan pelatihan relawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang diinisiasi oleh Bidang Kesejahteraan Sosial DPP PKS.<\/p>\n\n\n\n Dalam sambutannya, Ahmad Heryawan mengatakan bahwa negara hadir untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Keamanan merupakan hasil dari tidak adanya rasa takut, sementara kesejahteraan diindkasikan dari tidak adanya rasa lapar. Menurut Kang Aher, panggilan akrab Wakil Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, jalan negara menuju kesejahteraan masih cukup jauh karena adanya persoalan yang belum terselesaikan baik dari hasil pembangunan saat ini yang berdampak pada masalah sosial maupun dari masalah eksternal.<\/p>\n\n\n\n \u201cAda 17 persen dari 88 juta kepala keluarga yang masih masuk kelompok pra sejahtera. Mengapa ini terjadi, karena salah satunya adalah rendahnya pendidikan. Dari 17 persen tersebut, 50 persen di antaranya lulusan sekolah dasar. Inillah persoalannya,\u201d ungkap Aher.<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n \"Berhasil atau tidaknya pembangunan Daerah, salah satu tergantung pada peran DPRD, terutama pada pelaksanaan program pembangunan, sehingga pada akhirnya nanti betul-betul mewakili daerah pilihannya,\" ucap Bupati.<\/p>\n\n\n\n Bupati juga mengucapkan kepada Supandi, atas sumbangsinya yang diberikan selama menjadi mitra Pemkab Mura.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPRD Mura, Azandri mengucapkan terimakasih atas sumbangsinya yang diberikan Supandi selama aktif menjadi anggota DPRD Kabupaten Mura.<\/p>\n\n\n\n <\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Sumber : SRIPOKU.com<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dilantik Jadi PAW DPRD Mura, Sri Sunarsih Mengaku Perasaannya Campur Aduk, Ingat Mendiang Suami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dilantik-jadi-paw-dprd-mura-sri-sunarsih-mengaku-perasaannya-campur-aduk-ingat-mendiang-suami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-11-01 07:29:07","post_modified_gmt":"2022-11-01 00:29:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1588,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:36:40","post_date_gmt":"2022-10-31 10:36:40","post_content":"\n MUSI RAWAS<\/strong> - DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Musi Rawas (Mura) menggelar acara Memperingati Maulid Nabi Muhammad, di Sekretariat DPD PKS Mura, Sabtu (22\/10).<\/p>\n\n\n\n Hadir dalam acara itu anggota DPR RI Fraksi PKS, Mustafa Kamal, SS., anggota DPRD Sumatera Selatan (Sumsel) Fraksi PKS, Subhan, SE., Ketua DPD PKS Mura, Suhari, S. Pt. Ketua Dewan Etik Daerah PKS Mura yang juga Pimpinan Rumah Tahfidz Al-Ihzah Muara Kelingi, Iwan Susanto, S. Pd. I., Kades Tegal Rejo, Agus Salim, Penceramah, Ustadz Azhami Johani, S. P.d. I. dan segenap tamu undangan.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPD PKS Mura Suhari, dalam sambutan menyampaikan terimakasih kepada segenap yang hadir karena sudah memenuhi undangan DPD PKS Mura dalan rangka Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. <\/p>\n\n\n\n \"Terimakasih atas kehadirannya sudah menyempatkan waktu hadir disini, semoga menjadi amal shaleh,\" ujarnya.<\/p>\n\n\n\n Acara Maulid Nabi Muhammad yang diselenggarakan PKS itu, jelas Suhari, sesuai instruksi DPP PKS yang harus diselenggarakan tiap daerah kepengurusan.<\/p>\n\n\n\n \"PKS akan menjadi perekat umat. Dengan peringatan maulid ini, kita mengingat kembali perjuangan Rasulullah dalam menghidupkan agama,\" jelasnya.<\/p>\n\n\n\n Ia berharap, dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad ini bisa meneladani sifat Rasulullah dan menghidupkan sunnah.<\/p>\n\n\n\n Sementara, anggota DPR RI Fraksi X PKS, Mustafa Kamal, dalam sambutan menceritakan perjalanan Rasulullah dalam menyempurnakan akhlak mulia manusia.<\/p>\n\n\n\n Dimana, akhlak mulia sendiri sudah menjadi aturan di Indonesia dan tercantum dalam Undang-undang.<\/p>\n\n\n\n Kemudian, pada tausiyah, Ustadz Azhami Johani menyampaikan saat ini sudah banyak orang pintar, tapi tidak sedikit yang akhlaknya jahiliah.<\/p>\n\n\n\n \"Sekarang ini kejahiliahan kontemporer. Yang paling penting adalah akhlak, sejauh mana kita mencontoh Nabi. Zaman sekarang kita ini isalam tapi kadang tidak islami,\" katanya.<\/p>\n\n\n\n Dimomen Maulid Nabi Muhammad ini, Ustadz Azhami mengajak hadirin untuk mencontoh sifat Rasulullah, salah satunya sifat peduli.<\/p>\n\n\n\n \"Zaman sekarang kita krisis kepedulian, banyak pencitraan dan seremonial\".<\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Humas PKS Musi Rawas<\/p>\n","post_title":"DPD PKS Musi Rawas Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dpd-pks-musi-rawas-peringati-maulid-nabi-muhammad-saw","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:38:00","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:38:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1584,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:24:53","post_date_gmt":"2022-10-31 10:24:53","post_content":"\n JAKARTA \u2013 Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kemarin (30\/10) bertemu dengan mantan Gubernur dua periode Jawa Barat Ahmad Heryawan di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera, Jalan TB Simatupang, Jakarta. Pertemuan ini merupakan bagian dari kegiatan pelatihan relawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang diinisiasi oleh Bidang Kesejahteraan Sosial DPP PKS.<\/p>\n\n\n\n Dalam sambutannya, Ahmad Heryawan mengatakan bahwa negara hadir untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Keamanan merupakan hasil dari tidak adanya rasa takut, sementara kesejahteraan diindkasikan dari tidak adanya rasa lapar. Menurut Kang Aher, panggilan akrab Wakil Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, jalan negara menuju kesejahteraan masih cukup jauh karena adanya persoalan yang belum terselesaikan baik dari hasil pembangunan saat ini yang berdampak pada masalah sosial maupun dari masalah eksternal.<\/p>\n\n\n\n \u201cAda 17 persen dari 88 juta kepala keluarga yang masih masuk kelompok pra sejahtera. Mengapa ini terjadi, karena salah satunya adalah rendahnya pendidikan. Dari 17 persen tersebut, 50 persen di antaranya lulusan sekolah dasar. Inillah persoalannya,\u201d ungkap Aher.<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, dalam menjalankan tugas agar lebih visioner, kreatif, inovatif untuk mewujudkan harapan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \"Berhasil atau tidaknya pembangunan Daerah, salah satu tergantung pada peran DPRD, terutama pada pelaksanaan program pembangunan, sehingga pada akhirnya nanti betul-betul mewakili daerah pilihannya,\" ucap Bupati.<\/p>\n\n\n\n Bupati juga mengucapkan kepada Supandi, atas sumbangsinya yang diberikan selama menjadi mitra Pemkab Mura.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPRD Mura, Azandri mengucapkan terimakasih atas sumbangsinya yang diberikan Supandi selama aktif menjadi anggota DPRD Kabupaten Mura.<\/p>\n\n\n\n <\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Sumber : SRIPOKU.com<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dilantik Jadi PAW DPRD Mura, Sri Sunarsih Mengaku Perasaannya Campur Aduk, Ingat Mendiang Suami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dilantik-jadi-paw-dprd-mura-sri-sunarsih-mengaku-perasaannya-campur-aduk-ingat-mendiang-suami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-11-01 07:29:07","post_modified_gmt":"2022-11-01 00:29:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1588,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:36:40","post_date_gmt":"2022-10-31 10:36:40","post_content":"\n MUSI RAWAS<\/strong> - DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Musi Rawas (Mura) menggelar acara Memperingati Maulid Nabi Muhammad, di Sekretariat DPD PKS Mura, Sabtu (22\/10).<\/p>\n\n\n\n Hadir dalam acara itu anggota DPR RI Fraksi PKS, Mustafa Kamal, SS., anggota DPRD Sumatera Selatan (Sumsel) Fraksi PKS, Subhan, SE., Ketua DPD PKS Mura, Suhari, S. Pt. Ketua Dewan Etik Daerah PKS Mura yang juga Pimpinan Rumah Tahfidz Al-Ihzah Muara Kelingi, Iwan Susanto, S. Pd. I., Kades Tegal Rejo, Agus Salim, Penceramah, Ustadz Azhami Johani, S. P.d. I. dan segenap tamu undangan.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPD PKS Mura Suhari, dalam sambutan menyampaikan terimakasih kepada segenap yang hadir karena sudah memenuhi undangan DPD PKS Mura dalan rangka Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. <\/p>\n\n\n\n \"Terimakasih atas kehadirannya sudah menyempatkan waktu hadir disini, semoga menjadi amal shaleh,\" ujarnya.<\/p>\n\n\n\n Acara Maulid Nabi Muhammad yang diselenggarakan PKS itu, jelas Suhari, sesuai instruksi DPP PKS yang harus diselenggarakan tiap daerah kepengurusan.<\/p>\n\n\n\n \"PKS akan menjadi perekat umat. Dengan peringatan maulid ini, kita mengingat kembali perjuangan Rasulullah dalam menghidupkan agama,\" jelasnya.<\/p>\n\n\n\n Ia berharap, dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad ini bisa meneladani sifat Rasulullah dan menghidupkan sunnah.<\/p>\n\n\n\n Sementara, anggota DPR RI Fraksi X PKS, Mustafa Kamal, dalam sambutan menceritakan perjalanan Rasulullah dalam menyempurnakan akhlak mulia manusia.<\/p>\n\n\n\n Dimana, akhlak mulia sendiri sudah menjadi aturan di Indonesia dan tercantum dalam Undang-undang.<\/p>\n\n\n\n Kemudian, pada tausiyah, Ustadz Azhami Johani menyampaikan saat ini sudah banyak orang pintar, tapi tidak sedikit yang akhlaknya jahiliah.<\/p>\n\n\n\n \"Sekarang ini kejahiliahan kontemporer. Yang paling penting adalah akhlak, sejauh mana kita mencontoh Nabi. Zaman sekarang kita ini isalam tapi kadang tidak islami,\" katanya.<\/p>\n\n\n\n Dimomen Maulid Nabi Muhammad ini, Ustadz Azhami mengajak hadirin untuk mencontoh sifat Rasulullah, salah satunya sifat peduli.<\/p>\n\n\n\n \"Zaman sekarang kita krisis kepedulian, banyak pencitraan dan seremonial\".<\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Humas PKS Musi Rawas<\/p>\n","post_title":"DPD PKS Musi Rawas Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dpd-pks-musi-rawas-peringati-maulid-nabi-muhammad-saw","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:38:00","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:38:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1584,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:24:53","post_date_gmt":"2022-10-31 10:24:53","post_content":"\n JAKARTA \u2013 Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kemarin (30\/10) bertemu dengan mantan Gubernur dua periode Jawa Barat Ahmad Heryawan di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera, Jalan TB Simatupang, Jakarta. Pertemuan ini merupakan bagian dari kegiatan pelatihan relawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang diinisiasi oleh Bidang Kesejahteraan Sosial DPP PKS.<\/p>\n\n\n\n Dalam sambutannya, Ahmad Heryawan mengatakan bahwa negara hadir untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Keamanan merupakan hasil dari tidak adanya rasa takut, sementara kesejahteraan diindkasikan dari tidak adanya rasa lapar. Menurut Kang Aher, panggilan akrab Wakil Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, jalan negara menuju kesejahteraan masih cukup jauh karena adanya persoalan yang belum terselesaikan baik dari hasil pembangunan saat ini yang berdampak pada masalah sosial maupun dari masalah eksternal.<\/p>\n\n\n\n \u201cAda 17 persen dari 88 juta kepala keluarga yang masih masuk kelompok pra sejahtera. Mengapa ini terjadi, karena salah satunya adalah rendahnya pendidikan. Dari 17 persen tersebut, 50 persen di antaranya lulusan sekolah dasar. Inillah persoalannya,\u201d ungkap Aher.<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n \"Terpilihnya saudara mencerminkan besarnya harapan masyarakat, untuk kehidupan yang lebih baik,\" kata Bupati.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, dalam menjalankan tugas agar lebih visioner, kreatif, inovatif untuk mewujudkan harapan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \"Berhasil atau tidaknya pembangunan Daerah, salah satu tergantung pada peran DPRD, terutama pada pelaksanaan program pembangunan, sehingga pada akhirnya nanti betul-betul mewakili daerah pilihannya,\" ucap Bupati.<\/p>\n\n\n\n Bupati juga mengucapkan kepada Supandi, atas sumbangsinya yang diberikan selama menjadi mitra Pemkab Mura.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPRD Mura, Azandri mengucapkan terimakasih atas sumbangsinya yang diberikan Supandi selama aktif menjadi anggota DPRD Kabupaten Mura.<\/p>\n\n\n\n <\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Sumber : SRIPOKU.com<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dilantik Jadi PAW DPRD Mura, Sri Sunarsih Mengaku Perasaannya Campur Aduk, Ingat Mendiang Suami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dilantik-jadi-paw-dprd-mura-sri-sunarsih-mengaku-perasaannya-campur-aduk-ingat-mendiang-suami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-11-01 07:29:07","post_modified_gmt":"2022-11-01 00:29:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1588,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:36:40","post_date_gmt":"2022-10-31 10:36:40","post_content":"\n MUSI RAWAS<\/strong> - DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Musi Rawas (Mura) menggelar acara Memperingati Maulid Nabi Muhammad, di Sekretariat DPD PKS Mura, Sabtu (22\/10).<\/p>\n\n\n\n Hadir dalam acara itu anggota DPR RI Fraksi PKS, Mustafa Kamal, SS., anggota DPRD Sumatera Selatan (Sumsel) Fraksi PKS, Subhan, SE., Ketua DPD PKS Mura, Suhari, S. Pt. Ketua Dewan Etik Daerah PKS Mura yang juga Pimpinan Rumah Tahfidz Al-Ihzah Muara Kelingi, Iwan Susanto, S. Pd. I., Kades Tegal Rejo, Agus Salim, Penceramah, Ustadz Azhami Johani, S. P.d. I. dan segenap tamu undangan.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPD PKS Mura Suhari, dalam sambutan menyampaikan terimakasih kepada segenap yang hadir karena sudah memenuhi undangan DPD PKS Mura dalan rangka Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. <\/p>\n\n\n\n \"Terimakasih atas kehadirannya sudah menyempatkan waktu hadir disini, semoga menjadi amal shaleh,\" ujarnya.<\/p>\n\n\n\n Acara Maulid Nabi Muhammad yang diselenggarakan PKS itu, jelas Suhari, sesuai instruksi DPP PKS yang harus diselenggarakan tiap daerah kepengurusan.<\/p>\n\n\n\n \"PKS akan menjadi perekat umat. Dengan peringatan maulid ini, kita mengingat kembali perjuangan Rasulullah dalam menghidupkan agama,\" jelasnya.<\/p>\n\n\n\n Ia berharap, dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad ini bisa meneladani sifat Rasulullah dan menghidupkan sunnah.<\/p>\n\n\n\n Sementara, anggota DPR RI Fraksi X PKS, Mustafa Kamal, dalam sambutan menceritakan perjalanan Rasulullah dalam menyempurnakan akhlak mulia manusia.<\/p>\n\n\n\n Dimana, akhlak mulia sendiri sudah menjadi aturan di Indonesia dan tercantum dalam Undang-undang.<\/p>\n\n\n\n Kemudian, pada tausiyah, Ustadz Azhami Johani menyampaikan saat ini sudah banyak orang pintar, tapi tidak sedikit yang akhlaknya jahiliah.<\/p>\n\n\n\n \"Sekarang ini kejahiliahan kontemporer. Yang paling penting adalah akhlak, sejauh mana kita mencontoh Nabi. Zaman sekarang kita ini isalam tapi kadang tidak islami,\" katanya.<\/p>\n\n\n\n Dimomen Maulid Nabi Muhammad ini, Ustadz Azhami mengajak hadirin untuk mencontoh sifat Rasulullah, salah satunya sifat peduli.<\/p>\n\n\n\n \"Zaman sekarang kita krisis kepedulian, banyak pencitraan dan seremonial\".<\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Humas PKS Musi Rawas<\/p>\n","post_title":"DPD PKS Musi Rawas Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dpd-pks-musi-rawas-peringati-maulid-nabi-muhammad-saw","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:38:00","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:38:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1584,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:24:53","post_date_gmt":"2022-10-31 10:24:53","post_content":"\n JAKARTA \u2013 Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kemarin (30\/10) bertemu dengan mantan Gubernur dua periode Jawa Barat Ahmad Heryawan di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera, Jalan TB Simatupang, Jakarta. Pertemuan ini merupakan bagian dari kegiatan pelatihan relawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang diinisiasi oleh Bidang Kesejahteraan Sosial DPP PKS.<\/p>\n\n\n\n Dalam sambutannya, Ahmad Heryawan mengatakan bahwa negara hadir untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Keamanan merupakan hasil dari tidak adanya rasa takut, sementara kesejahteraan diindkasikan dari tidak adanya rasa lapar. Menurut Kang Aher, panggilan akrab Wakil Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, jalan negara menuju kesejahteraan masih cukup jauh karena adanya persoalan yang belum terselesaikan baik dari hasil pembangunan saat ini yang berdampak pada masalah sosial maupun dari masalah eksternal.<\/p>\n\n\n\n \u201cAda 17 persen dari 88 juta kepala keluarga yang masih masuk kelompok pra sejahtera. Mengapa ini terjadi, karena salah satunya adalah rendahnya pendidikan. Dari 17 persen tersebut, 50 persen di antaranya lulusan sekolah dasar. Inillah persoalannya,\u201d ungkap Aher.<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n Bupati Mura, Hj Ratna Machmud mengatakan, atas nama Pemkab Musi Rawas mengucapkan selamat menjalankan tugas sebagai wakil rakyat.<\/p>\n\n\n\n \"Terpilihnya saudara mencerminkan besarnya harapan masyarakat, untuk kehidupan yang lebih baik,\" kata Bupati.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, dalam menjalankan tugas agar lebih visioner, kreatif, inovatif untuk mewujudkan harapan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \"Berhasil atau tidaknya pembangunan Daerah, salah satu tergantung pada peran DPRD, terutama pada pelaksanaan program pembangunan, sehingga pada akhirnya nanti betul-betul mewakili daerah pilihannya,\" ucap Bupati.<\/p>\n\n\n\n Bupati juga mengucapkan kepada Supandi, atas sumbangsinya yang diberikan selama menjadi mitra Pemkab Mura.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPRD Mura, Azandri mengucapkan terimakasih atas sumbangsinya yang diberikan Supandi selama aktif menjadi anggota DPRD Kabupaten Mura.<\/p>\n\n\n\n <\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Sumber : SRIPOKU.com<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dilantik Jadi PAW DPRD Mura, Sri Sunarsih Mengaku Perasaannya Campur Aduk, Ingat Mendiang Suami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dilantik-jadi-paw-dprd-mura-sri-sunarsih-mengaku-perasaannya-campur-aduk-ingat-mendiang-suami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-11-01 07:29:07","post_modified_gmt":"2022-11-01 00:29:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1588,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:36:40","post_date_gmt":"2022-10-31 10:36:40","post_content":"\n MUSI RAWAS<\/strong> - DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Musi Rawas (Mura) menggelar acara Memperingati Maulid Nabi Muhammad, di Sekretariat DPD PKS Mura, Sabtu (22\/10).<\/p>\n\n\n\n Hadir dalam acara itu anggota DPR RI Fraksi PKS, Mustafa Kamal, SS., anggota DPRD Sumatera Selatan (Sumsel) Fraksi PKS, Subhan, SE., Ketua DPD PKS Mura, Suhari, S. Pt. Ketua Dewan Etik Daerah PKS Mura yang juga Pimpinan Rumah Tahfidz Al-Ihzah Muara Kelingi, Iwan Susanto, S. Pd. I., Kades Tegal Rejo, Agus Salim, Penceramah, Ustadz Azhami Johani, S. P.d. I. dan segenap tamu undangan.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPD PKS Mura Suhari, dalam sambutan menyampaikan terimakasih kepada segenap yang hadir karena sudah memenuhi undangan DPD PKS Mura dalan rangka Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. <\/p>\n\n\n\n \"Terimakasih atas kehadirannya sudah menyempatkan waktu hadir disini, semoga menjadi amal shaleh,\" ujarnya.<\/p>\n\n\n\n Acara Maulid Nabi Muhammad yang diselenggarakan PKS itu, jelas Suhari, sesuai instruksi DPP PKS yang harus diselenggarakan tiap daerah kepengurusan.<\/p>\n\n\n\n \"PKS akan menjadi perekat umat. Dengan peringatan maulid ini, kita mengingat kembali perjuangan Rasulullah dalam menghidupkan agama,\" jelasnya.<\/p>\n\n\n\n Ia berharap, dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad ini bisa meneladani sifat Rasulullah dan menghidupkan sunnah.<\/p>\n\n\n\n Sementara, anggota DPR RI Fraksi X PKS, Mustafa Kamal, dalam sambutan menceritakan perjalanan Rasulullah dalam menyempurnakan akhlak mulia manusia.<\/p>\n\n\n\n Dimana, akhlak mulia sendiri sudah menjadi aturan di Indonesia dan tercantum dalam Undang-undang.<\/p>\n\n\n\n Kemudian, pada tausiyah, Ustadz Azhami Johani menyampaikan saat ini sudah banyak orang pintar, tapi tidak sedikit yang akhlaknya jahiliah.<\/p>\n\n\n\n \"Sekarang ini kejahiliahan kontemporer. Yang paling penting adalah akhlak, sejauh mana kita mencontoh Nabi. Zaman sekarang kita ini isalam tapi kadang tidak islami,\" katanya.<\/p>\n\n\n\n Dimomen Maulid Nabi Muhammad ini, Ustadz Azhami mengajak hadirin untuk mencontoh sifat Rasulullah, salah satunya sifat peduli.<\/p>\n\n\n\n \"Zaman sekarang kita krisis kepedulian, banyak pencitraan dan seremonial\".<\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Humas PKS Musi Rawas<\/p>\n","post_title":"DPD PKS Musi Rawas Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dpd-pks-musi-rawas-peringati-maulid-nabi-muhammad-saw","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:38:00","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:38:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1584,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:24:53","post_date_gmt":"2022-10-31 10:24:53","post_content":"\n JAKARTA \u2013 Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kemarin (30\/10) bertemu dengan mantan Gubernur dua periode Jawa Barat Ahmad Heryawan di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera, Jalan TB Simatupang, Jakarta. Pertemuan ini merupakan bagian dari kegiatan pelatihan relawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang diinisiasi oleh Bidang Kesejahteraan Sosial DPP PKS.<\/p>\n\n\n\n Dalam sambutannya, Ahmad Heryawan mengatakan bahwa negara hadir untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Keamanan merupakan hasil dari tidak adanya rasa takut, sementara kesejahteraan diindkasikan dari tidak adanya rasa lapar. Menurut Kang Aher, panggilan akrab Wakil Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, jalan negara menuju kesejahteraan masih cukup jauh karena adanya persoalan yang belum terselesaikan baik dari hasil pembangunan saat ini yang berdampak pada masalah sosial maupun dari masalah eksternal.<\/p>\n\n\n\n \u201cAda 17 persen dari 88 juta kepala keluarga yang masih masuk kelompok pra sejahtera. Mengapa ini terjadi, karena salah satunya adalah rendahnya pendidikan. Dari 17 persen tersebut, 50 persen di antaranya lulusan sekolah dasar. Inillah persoalannya,\u201d ungkap Aher.<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n Kemudian disinggung mengenai target pada Pileg 2024 mendatang, H. Suhari, S. Pt. menargetkan 1 dapil 1 kursi.<\/p>\n\n\n\n Bupati Mura, Hj Ratna Machmud mengatakan, atas nama Pemkab Musi Rawas mengucapkan selamat menjalankan tugas sebagai wakil rakyat.<\/p>\n\n\n\n \"Terpilihnya saudara mencerminkan besarnya harapan masyarakat, untuk kehidupan yang lebih baik,\" kata Bupati.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, dalam menjalankan tugas agar lebih visioner, kreatif, inovatif untuk mewujudkan harapan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \"Berhasil atau tidaknya pembangunan Daerah, salah satu tergantung pada peran DPRD, terutama pada pelaksanaan program pembangunan, sehingga pada akhirnya nanti betul-betul mewakili daerah pilihannya,\" ucap Bupati.<\/p>\n\n\n\n Bupati juga mengucapkan kepada Supandi, atas sumbangsinya yang diberikan selama menjadi mitra Pemkab Mura.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPRD Mura, Azandri mengucapkan terimakasih atas sumbangsinya yang diberikan Supandi selama aktif menjadi anggota DPRD Kabupaten Mura.<\/p>\n\n\n\n <\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Sumber : SRIPOKU.com<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dilantik Jadi PAW DPRD Mura, Sri Sunarsih Mengaku Perasaannya Campur Aduk, Ingat Mendiang Suami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dilantik-jadi-paw-dprd-mura-sri-sunarsih-mengaku-perasaannya-campur-aduk-ingat-mendiang-suami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-11-01 07:29:07","post_modified_gmt":"2022-11-01 00:29:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1588,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:36:40","post_date_gmt":"2022-10-31 10:36:40","post_content":"\n MUSI RAWAS<\/strong> - DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Musi Rawas (Mura) menggelar acara Memperingati Maulid Nabi Muhammad, di Sekretariat DPD PKS Mura, Sabtu (22\/10).<\/p>\n\n\n\n Hadir dalam acara itu anggota DPR RI Fraksi PKS, Mustafa Kamal, SS., anggota DPRD Sumatera Selatan (Sumsel) Fraksi PKS, Subhan, SE., Ketua DPD PKS Mura, Suhari, S. Pt. Ketua Dewan Etik Daerah PKS Mura yang juga Pimpinan Rumah Tahfidz Al-Ihzah Muara Kelingi, Iwan Susanto, S. Pd. I., Kades Tegal Rejo, Agus Salim, Penceramah, Ustadz Azhami Johani, S. P.d. I. dan segenap tamu undangan.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPD PKS Mura Suhari, dalam sambutan menyampaikan terimakasih kepada segenap yang hadir karena sudah memenuhi undangan DPD PKS Mura dalan rangka Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. <\/p>\n\n\n\n \"Terimakasih atas kehadirannya sudah menyempatkan waktu hadir disini, semoga menjadi amal shaleh,\" ujarnya.<\/p>\n\n\n\n Acara Maulid Nabi Muhammad yang diselenggarakan PKS itu, jelas Suhari, sesuai instruksi DPP PKS yang harus diselenggarakan tiap daerah kepengurusan.<\/p>\n\n\n\n \"PKS akan menjadi perekat umat. Dengan peringatan maulid ini, kita mengingat kembali perjuangan Rasulullah dalam menghidupkan agama,\" jelasnya.<\/p>\n\n\n\n Ia berharap, dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad ini bisa meneladani sifat Rasulullah dan menghidupkan sunnah.<\/p>\n\n\n\n Sementara, anggota DPR RI Fraksi X PKS, Mustafa Kamal, dalam sambutan menceritakan perjalanan Rasulullah dalam menyempurnakan akhlak mulia manusia.<\/p>\n\n\n\n Dimana, akhlak mulia sendiri sudah menjadi aturan di Indonesia dan tercantum dalam Undang-undang.<\/p>\n\n\n\n Kemudian, pada tausiyah, Ustadz Azhami Johani menyampaikan saat ini sudah banyak orang pintar, tapi tidak sedikit yang akhlaknya jahiliah.<\/p>\n\n\n\n \"Sekarang ini kejahiliahan kontemporer. Yang paling penting adalah akhlak, sejauh mana kita mencontoh Nabi. Zaman sekarang kita ini isalam tapi kadang tidak islami,\" katanya.<\/p>\n\n\n\n Dimomen Maulid Nabi Muhammad ini, Ustadz Azhami mengajak hadirin untuk mencontoh sifat Rasulullah, salah satunya sifat peduli.<\/p>\n\n\n\n \"Zaman sekarang kita krisis kepedulian, banyak pencitraan dan seremonial\".<\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Humas PKS Musi Rawas<\/p>\n","post_title":"DPD PKS Musi Rawas Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dpd-pks-musi-rawas-peringati-maulid-nabi-muhammad-saw","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:38:00","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:38:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1584,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:24:53","post_date_gmt":"2022-10-31 10:24:53","post_content":"\n JAKARTA \u2013 Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kemarin (30\/10) bertemu dengan mantan Gubernur dua periode Jawa Barat Ahmad Heryawan di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera, Jalan TB Simatupang, Jakarta. Pertemuan ini merupakan bagian dari kegiatan pelatihan relawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang diinisiasi oleh Bidang Kesejahteraan Sosial DPP PKS.<\/p>\n\n\n\n Dalam sambutannya, Ahmad Heryawan mengatakan bahwa negara hadir untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Keamanan merupakan hasil dari tidak adanya rasa takut, sementara kesejahteraan diindkasikan dari tidak adanya rasa lapar. Menurut Kang Aher, panggilan akrab Wakil Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, jalan negara menuju kesejahteraan masih cukup jauh karena adanya persoalan yang belum terselesaikan baik dari hasil pembangunan saat ini yang berdampak pada masalah sosial maupun dari masalah eksternal.<\/p>\n\n\n\n \u201cAda 17 persen dari 88 juta kepala keluarga yang masih masuk kelompok pra sejahtera. Mengapa ini terjadi, karena salah satunya adalah rendahnya pendidikan. Dari 17 persen tersebut, 50 persen di antaranya lulusan sekolah dasar. Inillah persoalannya,\u201d ungkap Aher.<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n \"Karena komitmen, ketika di 2022 ada pergantian untuk memberikan motivasi calon legislatif (Caleg) dibawah untuk semangat berjuang,\" ungkapnya. <\/p>\n\n\n\n Kemudian disinggung mengenai target pada Pileg 2024 mendatang, H. Suhari, S. Pt. menargetkan 1 dapil 1 kursi.<\/p>\n\n\n\n Bupati Mura, Hj Ratna Machmud mengatakan, atas nama Pemkab Musi Rawas mengucapkan selamat menjalankan tugas sebagai wakil rakyat.<\/p>\n\n\n\n \"Terpilihnya saudara mencerminkan besarnya harapan masyarakat, untuk kehidupan yang lebih baik,\" kata Bupati.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, dalam menjalankan tugas agar lebih visioner, kreatif, inovatif untuk mewujudkan harapan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \"Berhasil atau tidaknya pembangunan Daerah, salah satu tergantung pada peran DPRD, terutama pada pelaksanaan program pembangunan, sehingga pada akhirnya nanti betul-betul mewakili daerah pilihannya,\" ucap Bupati.<\/p>\n\n\n\n Bupati juga mengucapkan kepada Supandi, atas sumbangsinya yang diberikan selama menjadi mitra Pemkab Mura.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPRD Mura, Azandri mengucapkan terimakasih atas sumbangsinya yang diberikan Supandi selama aktif menjadi anggota DPRD Kabupaten Mura.<\/p>\n\n\n\n <\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Sumber : SRIPOKU.com<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dilantik Jadi PAW DPRD Mura, Sri Sunarsih Mengaku Perasaannya Campur Aduk, Ingat Mendiang Suami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dilantik-jadi-paw-dprd-mura-sri-sunarsih-mengaku-perasaannya-campur-aduk-ingat-mendiang-suami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-11-01 07:29:07","post_modified_gmt":"2022-11-01 00:29:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1588,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:36:40","post_date_gmt":"2022-10-31 10:36:40","post_content":"\n MUSI RAWAS<\/strong> - DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Musi Rawas (Mura) menggelar acara Memperingati Maulid Nabi Muhammad, di Sekretariat DPD PKS Mura, Sabtu (22\/10).<\/p>\n\n\n\n Hadir dalam acara itu anggota DPR RI Fraksi PKS, Mustafa Kamal, SS., anggota DPRD Sumatera Selatan (Sumsel) Fraksi PKS, Subhan, SE., Ketua DPD PKS Mura, Suhari, S. Pt. Ketua Dewan Etik Daerah PKS Mura yang juga Pimpinan Rumah Tahfidz Al-Ihzah Muara Kelingi, Iwan Susanto, S. Pd. I., Kades Tegal Rejo, Agus Salim, Penceramah, Ustadz Azhami Johani, S. P.d. I. dan segenap tamu undangan.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPD PKS Mura Suhari, dalam sambutan menyampaikan terimakasih kepada segenap yang hadir karena sudah memenuhi undangan DPD PKS Mura dalan rangka Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. <\/p>\n\n\n\n \"Terimakasih atas kehadirannya sudah menyempatkan waktu hadir disini, semoga menjadi amal shaleh,\" ujarnya.<\/p>\n\n\n\n Acara Maulid Nabi Muhammad yang diselenggarakan PKS itu, jelas Suhari, sesuai instruksi DPP PKS yang harus diselenggarakan tiap daerah kepengurusan.<\/p>\n\n\n\n \"PKS akan menjadi perekat umat. Dengan peringatan maulid ini, kita mengingat kembali perjuangan Rasulullah dalam menghidupkan agama,\" jelasnya.<\/p>\n\n\n\n Ia berharap, dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad ini bisa meneladani sifat Rasulullah dan menghidupkan sunnah.<\/p>\n\n\n\n Sementara, anggota DPR RI Fraksi X PKS, Mustafa Kamal, dalam sambutan menceritakan perjalanan Rasulullah dalam menyempurnakan akhlak mulia manusia.<\/p>\n\n\n\n Dimana, akhlak mulia sendiri sudah menjadi aturan di Indonesia dan tercantum dalam Undang-undang.<\/p>\n\n\n\n Kemudian, pada tausiyah, Ustadz Azhami Johani menyampaikan saat ini sudah banyak orang pintar, tapi tidak sedikit yang akhlaknya jahiliah.<\/p>\n\n\n\n \"Sekarang ini kejahiliahan kontemporer. Yang paling penting adalah akhlak, sejauh mana kita mencontoh Nabi. Zaman sekarang kita ini isalam tapi kadang tidak islami,\" katanya.<\/p>\n\n\n\n Dimomen Maulid Nabi Muhammad ini, Ustadz Azhami mengajak hadirin untuk mencontoh sifat Rasulullah, salah satunya sifat peduli.<\/p>\n\n\n\n \"Zaman sekarang kita krisis kepedulian, banyak pencitraan dan seremonial\".<\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Humas PKS Musi Rawas<\/p>\n","post_title":"DPD PKS Musi Rawas Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dpd-pks-musi-rawas-peringati-maulid-nabi-muhammad-saw","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:38:00","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:38:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1584,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:24:53","post_date_gmt":"2022-10-31 10:24:53","post_content":"\n JAKARTA \u2013 Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kemarin (30\/10) bertemu dengan mantan Gubernur dua periode Jawa Barat Ahmad Heryawan di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera, Jalan TB Simatupang, Jakarta. Pertemuan ini merupakan bagian dari kegiatan pelatihan relawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang diinisiasi oleh Bidang Kesejahteraan Sosial DPP PKS.<\/p>\n\n\n\n Dalam sambutannya, Ahmad Heryawan mengatakan bahwa negara hadir untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Keamanan merupakan hasil dari tidak adanya rasa takut, sementara kesejahteraan diindkasikan dari tidak adanya rasa lapar. Menurut Kang Aher, panggilan akrab Wakil Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, jalan negara menuju kesejahteraan masih cukup jauh karena adanya persoalan yang belum terselesaikan baik dari hasil pembangunan saat ini yang berdampak pada masalah sosial maupun dari masalah eksternal.<\/p>\n\n\n\n \u201cAda 17 persen dari 88 juta kepala keluarga yang masih masuk kelompok pra sejahtera. Mengapa ini terjadi, karena salah satunya adalah rendahnya pendidikan. Dari 17 persen tersebut, 50 persen di antaranya lulusan sekolah dasar. Inillah persoalannya,\u201d ungkap Aher.<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n Ketua DPD PKS Kabupaten Mura, H. Suhari, S. Pt. mengaku, Sri Sunarsih dilantik mengantikan Supandi, SE., MM. <\/p>\n\n\n\n \"Karena komitmen, ketika di 2022 ada pergantian untuk memberikan motivasi calon legislatif (Caleg) dibawah untuk semangat berjuang,\" ungkapnya. <\/p>\n\n\n\n Kemudian disinggung mengenai target pada Pileg 2024 mendatang, H. Suhari, S. Pt. menargetkan 1 dapil 1 kursi.<\/p>\n\n\n\n Bupati Mura, Hj Ratna Machmud mengatakan, atas nama Pemkab Musi Rawas mengucapkan selamat menjalankan tugas sebagai wakil rakyat.<\/p>\n\n\n\n \"Terpilihnya saudara mencerminkan besarnya harapan masyarakat, untuk kehidupan yang lebih baik,\" kata Bupati.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, dalam menjalankan tugas agar lebih visioner, kreatif, inovatif untuk mewujudkan harapan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \"Berhasil atau tidaknya pembangunan Daerah, salah satu tergantung pada peran DPRD, terutama pada pelaksanaan program pembangunan, sehingga pada akhirnya nanti betul-betul mewakili daerah pilihannya,\" ucap Bupati.<\/p>\n\n\n\n Bupati juga mengucapkan kepada Supandi, atas sumbangsinya yang diberikan selama menjadi mitra Pemkab Mura.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPRD Mura, Azandri mengucapkan terimakasih atas sumbangsinya yang diberikan Supandi selama aktif menjadi anggota DPRD Kabupaten Mura.<\/p>\n\n\n\n <\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Sumber : SRIPOKU.com<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dilantik Jadi PAW DPRD Mura, Sri Sunarsih Mengaku Perasaannya Campur Aduk, Ingat Mendiang Suami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dilantik-jadi-paw-dprd-mura-sri-sunarsih-mengaku-perasaannya-campur-aduk-ingat-mendiang-suami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-11-01 07:29:07","post_modified_gmt":"2022-11-01 00:29:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1588,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:36:40","post_date_gmt":"2022-10-31 10:36:40","post_content":"\n MUSI RAWAS<\/strong> - DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Musi Rawas (Mura) menggelar acara Memperingati Maulid Nabi Muhammad, di Sekretariat DPD PKS Mura, Sabtu (22\/10).<\/p>\n\n\n\n Hadir dalam acara itu anggota DPR RI Fraksi PKS, Mustafa Kamal, SS., anggota DPRD Sumatera Selatan (Sumsel) Fraksi PKS, Subhan, SE., Ketua DPD PKS Mura, Suhari, S. Pt. Ketua Dewan Etik Daerah PKS Mura yang juga Pimpinan Rumah Tahfidz Al-Ihzah Muara Kelingi, Iwan Susanto, S. Pd. I., Kades Tegal Rejo, Agus Salim, Penceramah, Ustadz Azhami Johani, S. P.d. I. dan segenap tamu undangan.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPD PKS Mura Suhari, dalam sambutan menyampaikan terimakasih kepada segenap yang hadir karena sudah memenuhi undangan DPD PKS Mura dalan rangka Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. <\/p>\n\n\n\n \"Terimakasih atas kehadirannya sudah menyempatkan waktu hadir disini, semoga menjadi amal shaleh,\" ujarnya.<\/p>\n\n\n\n Acara Maulid Nabi Muhammad yang diselenggarakan PKS itu, jelas Suhari, sesuai instruksi DPP PKS yang harus diselenggarakan tiap daerah kepengurusan.<\/p>\n\n\n\n \"PKS akan menjadi perekat umat. Dengan peringatan maulid ini, kita mengingat kembali perjuangan Rasulullah dalam menghidupkan agama,\" jelasnya.<\/p>\n\n\n\n Ia berharap, dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad ini bisa meneladani sifat Rasulullah dan menghidupkan sunnah.<\/p>\n\n\n\n Sementara, anggota DPR RI Fraksi X PKS, Mustafa Kamal, dalam sambutan menceritakan perjalanan Rasulullah dalam menyempurnakan akhlak mulia manusia.<\/p>\n\n\n\n Dimana, akhlak mulia sendiri sudah menjadi aturan di Indonesia dan tercantum dalam Undang-undang.<\/p>\n\n\n\n Kemudian, pada tausiyah, Ustadz Azhami Johani menyampaikan saat ini sudah banyak orang pintar, tapi tidak sedikit yang akhlaknya jahiliah.<\/p>\n\n\n\n \"Sekarang ini kejahiliahan kontemporer. Yang paling penting adalah akhlak, sejauh mana kita mencontoh Nabi. Zaman sekarang kita ini isalam tapi kadang tidak islami,\" katanya.<\/p>\n\n\n\n Dimomen Maulid Nabi Muhammad ini, Ustadz Azhami mengajak hadirin untuk mencontoh sifat Rasulullah, salah satunya sifat peduli.<\/p>\n\n\n\n \"Zaman sekarang kita krisis kepedulian, banyak pencitraan dan seremonial\".<\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Humas PKS Musi Rawas<\/p>\n","post_title":"DPD PKS Musi Rawas Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dpd-pks-musi-rawas-peringati-maulid-nabi-muhammad-saw","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:38:00","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:38:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1584,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:24:53","post_date_gmt":"2022-10-31 10:24:53","post_content":"\n JAKARTA \u2013 Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kemarin (30\/10) bertemu dengan mantan Gubernur dua periode Jawa Barat Ahmad Heryawan di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera, Jalan TB Simatupang, Jakarta. Pertemuan ini merupakan bagian dari kegiatan pelatihan relawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang diinisiasi oleh Bidang Kesejahteraan Sosial DPP PKS.<\/p>\n\n\n\n Dalam sambutannya, Ahmad Heryawan mengatakan bahwa negara hadir untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Keamanan merupakan hasil dari tidak adanya rasa takut, sementara kesejahteraan diindkasikan dari tidak adanya rasa lapar. Menurut Kang Aher, panggilan akrab Wakil Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, jalan negara menuju kesejahteraan masih cukup jauh karena adanya persoalan yang belum terselesaikan baik dari hasil pembangunan saat ini yang berdampak pada masalah sosial maupun dari masalah eksternal.<\/p>\n\n\n\n \u201cAda 17 persen dari 88 juta kepala keluarga yang masih masuk kelompok pra sejahtera. Mengapa ini terjadi, karena salah satunya adalah rendahnya pendidikan. Dari 17 persen tersebut, 50 persen di antaranya lulusan sekolah dasar. Inillah persoalannya,\u201d ungkap Aher.<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n Setelah dilantik dia mengaku siap memperjuangkan aspirasi masyarakat agar bisa tersampaikan kepada pemerintah.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPD PKS Kabupaten Mura, H. Suhari, S. Pt. mengaku, Sri Sunarsih dilantik mengantikan Supandi, SE., MM. <\/p>\n\n\n\n \"Karena komitmen, ketika di 2022 ada pergantian untuk memberikan motivasi calon legislatif (Caleg) dibawah untuk semangat berjuang,\" ungkapnya. <\/p>\n\n\n\n Kemudian disinggung mengenai target pada Pileg 2024 mendatang, H. Suhari, S. Pt. menargetkan 1 dapil 1 kursi.<\/p>\n\n\n\n Bupati Mura, Hj Ratna Machmud mengatakan, atas nama Pemkab Musi Rawas mengucapkan selamat menjalankan tugas sebagai wakil rakyat.<\/p>\n\n\n\n \"Terpilihnya saudara mencerminkan besarnya harapan masyarakat, untuk kehidupan yang lebih baik,\" kata Bupati.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, dalam menjalankan tugas agar lebih visioner, kreatif, inovatif untuk mewujudkan harapan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \"Berhasil atau tidaknya pembangunan Daerah, salah satu tergantung pada peran DPRD, terutama pada pelaksanaan program pembangunan, sehingga pada akhirnya nanti betul-betul mewakili daerah pilihannya,\" ucap Bupati.<\/p>\n\n\n\n Bupati juga mengucapkan kepada Supandi, atas sumbangsinya yang diberikan selama menjadi mitra Pemkab Mura.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPRD Mura, Azandri mengucapkan terimakasih atas sumbangsinya yang diberikan Supandi selama aktif menjadi anggota DPRD Kabupaten Mura.<\/p>\n\n\n\n <\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Sumber : SRIPOKU.com<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dilantik Jadi PAW DPRD Mura, Sri Sunarsih Mengaku Perasaannya Campur Aduk, Ingat Mendiang Suami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dilantik-jadi-paw-dprd-mura-sri-sunarsih-mengaku-perasaannya-campur-aduk-ingat-mendiang-suami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-11-01 07:29:07","post_modified_gmt":"2022-11-01 00:29:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1588,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:36:40","post_date_gmt":"2022-10-31 10:36:40","post_content":"\n MUSI RAWAS<\/strong> - DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Musi Rawas (Mura) menggelar acara Memperingati Maulid Nabi Muhammad, di Sekretariat DPD PKS Mura, Sabtu (22\/10).<\/p>\n\n\n\n Hadir dalam acara itu anggota DPR RI Fraksi PKS, Mustafa Kamal, SS., anggota DPRD Sumatera Selatan (Sumsel) Fraksi PKS, Subhan, SE., Ketua DPD PKS Mura, Suhari, S. Pt. Ketua Dewan Etik Daerah PKS Mura yang juga Pimpinan Rumah Tahfidz Al-Ihzah Muara Kelingi, Iwan Susanto, S. Pd. I., Kades Tegal Rejo, Agus Salim, Penceramah, Ustadz Azhami Johani, S. P.d. I. dan segenap tamu undangan.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPD PKS Mura Suhari, dalam sambutan menyampaikan terimakasih kepada segenap yang hadir karena sudah memenuhi undangan DPD PKS Mura dalan rangka Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. <\/p>\n\n\n\n \"Terimakasih atas kehadirannya sudah menyempatkan waktu hadir disini, semoga menjadi amal shaleh,\" ujarnya.<\/p>\n\n\n\n Acara Maulid Nabi Muhammad yang diselenggarakan PKS itu, jelas Suhari, sesuai instruksi DPP PKS yang harus diselenggarakan tiap daerah kepengurusan.<\/p>\n\n\n\n \"PKS akan menjadi perekat umat. Dengan peringatan maulid ini, kita mengingat kembali perjuangan Rasulullah dalam menghidupkan agama,\" jelasnya.<\/p>\n\n\n\n Ia berharap, dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad ini bisa meneladani sifat Rasulullah dan menghidupkan sunnah.<\/p>\n\n\n\n Sementara, anggota DPR RI Fraksi X PKS, Mustafa Kamal, dalam sambutan menceritakan perjalanan Rasulullah dalam menyempurnakan akhlak mulia manusia.<\/p>\n\n\n\n Dimana, akhlak mulia sendiri sudah menjadi aturan di Indonesia dan tercantum dalam Undang-undang.<\/p>\n\n\n\n Kemudian, pada tausiyah, Ustadz Azhami Johani menyampaikan saat ini sudah banyak orang pintar, tapi tidak sedikit yang akhlaknya jahiliah.<\/p>\n\n\n\n \"Sekarang ini kejahiliahan kontemporer. Yang paling penting adalah akhlak, sejauh mana kita mencontoh Nabi. Zaman sekarang kita ini isalam tapi kadang tidak islami,\" katanya.<\/p>\n\n\n\n Dimomen Maulid Nabi Muhammad ini, Ustadz Azhami mengajak hadirin untuk mencontoh sifat Rasulullah, salah satunya sifat peduli.<\/p>\n\n\n\n \"Zaman sekarang kita krisis kepedulian, banyak pencitraan dan seremonial\".<\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Humas PKS Musi Rawas<\/p>\n","post_title":"DPD PKS Musi Rawas Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dpd-pks-musi-rawas-peringati-maulid-nabi-muhammad-saw","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:38:00","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:38:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1584,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:24:53","post_date_gmt":"2022-10-31 10:24:53","post_content":"\n JAKARTA \u2013 Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kemarin (30\/10) bertemu dengan mantan Gubernur dua periode Jawa Barat Ahmad Heryawan di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera, Jalan TB Simatupang, Jakarta. Pertemuan ini merupakan bagian dari kegiatan pelatihan relawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang diinisiasi oleh Bidang Kesejahteraan Sosial DPP PKS.<\/p>\n\n\n\n Dalam sambutannya, Ahmad Heryawan mengatakan bahwa negara hadir untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Keamanan merupakan hasil dari tidak adanya rasa takut, sementara kesejahteraan diindkasikan dari tidak adanya rasa lapar. Menurut Kang Aher, panggilan akrab Wakil Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, jalan negara menuju kesejahteraan masih cukup jauh karena adanya persoalan yang belum terselesaikan baik dari hasil pembangunan saat ini yang berdampak pada masalah sosial maupun dari masalah eksternal.<\/p>\n\n\n\n \u201cAda 17 persen dari 88 juta kepala keluarga yang masih masuk kelompok pra sejahtera. Mengapa ini terjadi, karena salah satunya adalah rendahnya pendidikan. Dari 17 persen tersebut, 50 persen di antaranya lulusan sekolah dasar. Inillah persoalannya,\u201d ungkap Aher.<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n \"Ibu-ibu pengajian banyak yang dukung, dan minta saya maju,\" katanya. <\/p>\n\n\n\n Setelah dilantik dia mengaku siap memperjuangkan aspirasi masyarakat agar bisa tersampaikan kepada pemerintah.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPD PKS Kabupaten Mura, H. Suhari, S. Pt. mengaku, Sri Sunarsih dilantik mengantikan Supandi, SE., MM. <\/p>\n\n\n\n \"Karena komitmen, ketika di 2022 ada pergantian untuk memberikan motivasi calon legislatif (Caleg) dibawah untuk semangat berjuang,\" ungkapnya. <\/p>\n\n\n\n Kemudian disinggung mengenai target pada Pileg 2024 mendatang, H. Suhari, S. Pt. menargetkan 1 dapil 1 kursi.<\/p>\n\n\n\n Bupati Mura, Hj Ratna Machmud mengatakan, atas nama Pemkab Musi Rawas mengucapkan selamat menjalankan tugas sebagai wakil rakyat.<\/p>\n\n\n\n \"Terpilihnya saudara mencerminkan besarnya harapan masyarakat, untuk kehidupan yang lebih baik,\" kata Bupati.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, dalam menjalankan tugas agar lebih visioner, kreatif, inovatif untuk mewujudkan harapan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \"Berhasil atau tidaknya pembangunan Daerah, salah satu tergantung pada peran DPRD, terutama pada pelaksanaan program pembangunan, sehingga pada akhirnya nanti betul-betul mewakili daerah pilihannya,\" ucap Bupati.<\/p>\n\n\n\n Bupati juga mengucapkan kepada Supandi, atas sumbangsinya yang diberikan selama menjadi mitra Pemkab Mura.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPRD Mura, Azandri mengucapkan terimakasih atas sumbangsinya yang diberikan Supandi selama aktif menjadi anggota DPRD Kabupaten Mura.<\/p>\n\n\n\n <\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Sumber : SRIPOKU.com<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dilantik Jadi PAW DPRD Mura, Sri Sunarsih Mengaku Perasaannya Campur Aduk, Ingat Mendiang Suami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dilantik-jadi-paw-dprd-mura-sri-sunarsih-mengaku-perasaannya-campur-aduk-ingat-mendiang-suami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-11-01 07:29:07","post_modified_gmt":"2022-11-01 00:29:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1588,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:36:40","post_date_gmt":"2022-10-31 10:36:40","post_content":"\n MUSI RAWAS<\/strong> - DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Musi Rawas (Mura) menggelar acara Memperingati Maulid Nabi Muhammad, di Sekretariat DPD PKS Mura, Sabtu (22\/10).<\/p>\n\n\n\n Hadir dalam acara itu anggota DPR RI Fraksi PKS, Mustafa Kamal, SS., anggota DPRD Sumatera Selatan (Sumsel) Fraksi PKS, Subhan, SE., Ketua DPD PKS Mura, Suhari, S. Pt. Ketua Dewan Etik Daerah PKS Mura yang juga Pimpinan Rumah Tahfidz Al-Ihzah Muara Kelingi, Iwan Susanto, S. Pd. I., Kades Tegal Rejo, Agus Salim, Penceramah, Ustadz Azhami Johani, S. P.d. I. dan segenap tamu undangan.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPD PKS Mura Suhari, dalam sambutan menyampaikan terimakasih kepada segenap yang hadir karena sudah memenuhi undangan DPD PKS Mura dalan rangka Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. <\/p>\n\n\n\n \"Terimakasih atas kehadirannya sudah menyempatkan waktu hadir disini, semoga menjadi amal shaleh,\" ujarnya.<\/p>\n\n\n\n Acara Maulid Nabi Muhammad yang diselenggarakan PKS itu, jelas Suhari, sesuai instruksi DPP PKS yang harus diselenggarakan tiap daerah kepengurusan.<\/p>\n\n\n\n \"PKS akan menjadi perekat umat. Dengan peringatan maulid ini, kita mengingat kembali perjuangan Rasulullah dalam menghidupkan agama,\" jelasnya.<\/p>\n\n\n\n Ia berharap, dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad ini bisa meneladani sifat Rasulullah dan menghidupkan sunnah.<\/p>\n\n\n\n Sementara, anggota DPR RI Fraksi X PKS, Mustafa Kamal, dalam sambutan menceritakan perjalanan Rasulullah dalam menyempurnakan akhlak mulia manusia.<\/p>\n\n\n\n Dimana, akhlak mulia sendiri sudah menjadi aturan di Indonesia dan tercantum dalam Undang-undang.<\/p>\n\n\n\n Kemudian, pada tausiyah, Ustadz Azhami Johani menyampaikan saat ini sudah banyak orang pintar, tapi tidak sedikit yang akhlaknya jahiliah.<\/p>\n\n\n\n \"Sekarang ini kejahiliahan kontemporer. Yang paling penting adalah akhlak, sejauh mana kita mencontoh Nabi. Zaman sekarang kita ini isalam tapi kadang tidak islami,\" katanya.<\/p>\n\n\n\n Dimomen Maulid Nabi Muhammad ini, Ustadz Azhami mengajak hadirin untuk mencontoh sifat Rasulullah, salah satunya sifat peduli.<\/p>\n\n\n\n \"Zaman sekarang kita krisis kepedulian, banyak pencitraan dan seremonial\".<\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Humas PKS Musi Rawas<\/p>\n","post_title":"DPD PKS Musi Rawas Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dpd-pks-musi-rawas-peringati-maulid-nabi-muhammad-saw","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:38:00","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:38:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1584,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:24:53","post_date_gmt":"2022-10-31 10:24:53","post_content":"\n JAKARTA \u2013 Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kemarin (30\/10) bertemu dengan mantan Gubernur dua periode Jawa Barat Ahmad Heryawan di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera, Jalan TB Simatupang, Jakarta. Pertemuan ini merupakan bagian dari kegiatan pelatihan relawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang diinisiasi oleh Bidang Kesejahteraan Sosial DPP PKS.<\/p>\n\n\n\n Dalam sambutannya, Ahmad Heryawan mengatakan bahwa negara hadir untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Keamanan merupakan hasil dari tidak adanya rasa takut, sementara kesejahteraan diindkasikan dari tidak adanya rasa lapar. Menurut Kang Aher, panggilan akrab Wakil Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, jalan negara menuju kesejahteraan masih cukup jauh karena adanya persoalan yang belum terselesaikan baik dari hasil pembangunan saat ini yang berdampak pada masalah sosial maupun dari masalah eksternal.<\/p>\n\n\n\n \u201cAda 17 persen dari 88 juta kepala keluarga yang masih masuk kelompok pra sejahtera. Mengapa ini terjadi, karena salah satunya adalah rendahnya pendidikan. Dari 17 persen tersebut, 50 persen di antaranya lulusan sekolah dasar. Inillah persoalannya,\u201d ungkap Aher.<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dari situlah, Sri Sunarsih memberanikan diri untuk ikut berpolitik pada Pileg tahun 2019.<\/p>\n\n\n\n \"Ibu-ibu pengajian banyak yang dukung, dan minta saya maju,\" katanya. <\/p>\n\n\n\n Setelah dilantik dia mengaku siap memperjuangkan aspirasi masyarakat agar bisa tersampaikan kepada pemerintah.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPD PKS Kabupaten Mura, H. Suhari, S. Pt. mengaku, Sri Sunarsih dilantik mengantikan Supandi, SE., MM. <\/p>\n\n\n\n \"Karena komitmen, ketika di 2022 ada pergantian untuk memberikan motivasi calon legislatif (Caleg) dibawah untuk semangat berjuang,\" ungkapnya. <\/p>\n\n\n\n Kemudian disinggung mengenai target pada Pileg 2024 mendatang, H. Suhari, S. Pt. menargetkan 1 dapil 1 kursi.<\/p>\n\n\n\n Bupati Mura, Hj Ratna Machmud mengatakan, atas nama Pemkab Musi Rawas mengucapkan selamat menjalankan tugas sebagai wakil rakyat.<\/p>\n\n\n\n \"Terpilihnya saudara mencerminkan besarnya harapan masyarakat, untuk kehidupan yang lebih baik,\" kata Bupati.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, dalam menjalankan tugas agar lebih visioner, kreatif, inovatif untuk mewujudkan harapan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \"Berhasil atau tidaknya pembangunan Daerah, salah satu tergantung pada peran DPRD, terutama pada pelaksanaan program pembangunan, sehingga pada akhirnya nanti betul-betul mewakili daerah pilihannya,\" ucap Bupati.<\/p>\n\n\n\n Bupati juga mengucapkan kepada Supandi, atas sumbangsinya yang diberikan selama menjadi mitra Pemkab Mura.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPRD Mura, Azandri mengucapkan terimakasih atas sumbangsinya yang diberikan Supandi selama aktif menjadi anggota DPRD Kabupaten Mura.<\/p>\n\n\n\n <\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Sumber : SRIPOKU.com<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dilantik Jadi PAW DPRD Mura, Sri Sunarsih Mengaku Perasaannya Campur Aduk, Ingat Mendiang Suami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dilantik-jadi-paw-dprd-mura-sri-sunarsih-mengaku-perasaannya-campur-aduk-ingat-mendiang-suami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-11-01 07:29:07","post_modified_gmt":"2022-11-01 00:29:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1588,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:36:40","post_date_gmt":"2022-10-31 10:36:40","post_content":"\n MUSI RAWAS<\/strong> - DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Musi Rawas (Mura) menggelar acara Memperingati Maulid Nabi Muhammad, di Sekretariat DPD PKS Mura, Sabtu (22\/10).<\/p>\n\n\n\n Hadir dalam acara itu anggota DPR RI Fraksi PKS, Mustafa Kamal, SS., anggota DPRD Sumatera Selatan (Sumsel) Fraksi PKS, Subhan, SE., Ketua DPD PKS Mura, Suhari, S. Pt. Ketua Dewan Etik Daerah PKS Mura yang juga Pimpinan Rumah Tahfidz Al-Ihzah Muara Kelingi, Iwan Susanto, S. Pd. I., Kades Tegal Rejo, Agus Salim, Penceramah, Ustadz Azhami Johani, S. P.d. I. dan segenap tamu undangan.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPD PKS Mura Suhari, dalam sambutan menyampaikan terimakasih kepada segenap yang hadir karena sudah memenuhi undangan DPD PKS Mura dalan rangka Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. <\/p>\n\n\n\n \"Terimakasih atas kehadirannya sudah menyempatkan waktu hadir disini, semoga menjadi amal shaleh,\" ujarnya.<\/p>\n\n\n\n Acara Maulid Nabi Muhammad yang diselenggarakan PKS itu, jelas Suhari, sesuai instruksi DPP PKS yang harus diselenggarakan tiap daerah kepengurusan.<\/p>\n\n\n\n \"PKS akan menjadi perekat umat. Dengan peringatan maulid ini, kita mengingat kembali perjuangan Rasulullah dalam menghidupkan agama,\" jelasnya.<\/p>\n\n\n\n Ia berharap, dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad ini bisa meneladani sifat Rasulullah dan menghidupkan sunnah.<\/p>\n\n\n\n Sementara, anggota DPR RI Fraksi X PKS, Mustafa Kamal, dalam sambutan menceritakan perjalanan Rasulullah dalam menyempurnakan akhlak mulia manusia.<\/p>\n\n\n\n Dimana, akhlak mulia sendiri sudah menjadi aturan di Indonesia dan tercantum dalam Undang-undang.<\/p>\n\n\n\n Kemudian, pada tausiyah, Ustadz Azhami Johani menyampaikan saat ini sudah banyak orang pintar, tapi tidak sedikit yang akhlaknya jahiliah.<\/p>\n\n\n\n \"Sekarang ini kejahiliahan kontemporer. Yang paling penting adalah akhlak, sejauh mana kita mencontoh Nabi. Zaman sekarang kita ini isalam tapi kadang tidak islami,\" katanya.<\/p>\n\n\n\n Dimomen Maulid Nabi Muhammad ini, Ustadz Azhami mengajak hadirin untuk mencontoh sifat Rasulullah, salah satunya sifat peduli.<\/p>\n\n\n\n \"Zaman sekarang kita krisis kepedulian, banyak pencitraan dan seremonial\".<\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Humas PKS Musi Rawas<\/p>\n","post_title":"DPD PKS Musi Rawas Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dpd-pks-musi-rawas-peringati-maulid-nabi-muhammad-saw","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:38:00","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:38:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1584,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:24:53","post_date_gmt":"2022-10-31 10:24:53","post_content":"\n JAKARTA \u2013 Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kemarin (30\/10) bertemu dengan mantan Gubernur dua periode Jawa Barat Ahmad Heryawan di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera, Jalan TB Simatupang, Jakarta. Pertemuan ini merupakan bagian dari kegiatan pelatihan relawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang diinisiasi oleh Bidang Kesejahteraan Sosial DPP PKS.<\/p>\n\n\n\n Dalam sambutannya, Ahmad Heryawan mengatakan bahwa negara hadir untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Keamanan merupakan hasil dari tidak adanya rasa takut, sementara kesejahteraan diindkasikan dari tidak adanya rasa lapar. Menurut Kang Aher, panggilan akrab Wakil Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, jalan negara menuju kesejahteraan masih cukup jauh karena adanya persoalan yang belum terselesaikan baik dari hasil pembangunan saat ini yang berdampak pada masalah sosial maupun dari masalah eksternal.<\/p>\n\n\n\n \u201cAda 17 persen dari 88 juta kepala keluarga yang masih masuk kelompok pra sejahtera. Mengapa ini terjadi, karena salah satunya adalah rendahnya pendidikan. Dari 17 persen tersebut, 50 persen di antaranya lulusan sekolah dasar. Inillah persoalannya,\u201d ungkap Aher.<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dia merupakan seorang mualaf dan ibu rumah tangga yang aktif di ibu-ibu pengajian di Desa Megang Sakti 3.<\/p>\n\n\n\n Dari situlah, Sri Sunarsih memberanikan diri untuk ikut berpolitik pada Pileg tahun 2019.<\/p>\n\n\n\n \"Ibu-ibu pengajian banyak yang dukung, dan minta saya maju,\" katanya. <\/p>\n\n\n\n Setelah dilantik dia mengaku siap memperjuangkan aspirasi masyarakat agar bisa tersampaikan kepada pemerintah.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPD PKS Kabupaten Mura, H. Suhari, S. Pt. mengaku, Sri Sunarsih dilantik mengantikan Supandi, SE., MM. <\/p>\n\n\n\n \"Karena komitmen, ketika di 2022 ada pergantian untuk memberikan motivasi calon legislatif (Caleg) dibawah untuk semangat berjuang,\" ungkapnya. <\/p>\n\n\n\n Kemudian disinggung mengenai target pada Pileg 2024 mendatang, H. Suhari, S. Pt. menargetkan 1 dapil 1 kursi.<\/p>\n\n\n\n Bupati Mura, Hj Ratna Machmud mengatakan, atas nama Pemkab Musi Rawas mengucapkan selamat menjalankan tugas sebagai wakil rakyat.<\/p>\n\n\n\n \"Terpilihnya saudara mencerminkan besarnya harapan masyarakat, untuk kehidupan yang lebih baik,\" kata Bupati.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, dalam menjalankan tugas agar lebih visioner, kreatif, inovatif untuk mewujudkan harapan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \"Berhasil atau tidaknya pembangunan Daerah, salah satu tergantung pada peran DPRD, terutama pada pelaksanaan program pembangunan, sehingga pada akhirnya nanti betul-betul mewakili daerah pilihannya,\" ucap Bupati.<\/p>\n\n\n\n Bupati juga mengucapkan kepada Supandi, atas sumbangsinya yang diberikan selama menjadi mitra Pemkab Mura.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPRD Mura, Azandri mengucapkan terimakasih atas sumbangsinya yang diberikan Supandi selama aktif menjadi anggota DPRD Kabupaten Mura.<\/p>\n\n\n\n <\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Sumber : SRIPOKU.com<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dilantik Jadi PAW DPRD Mura, Sri Sunarsih Mengaku Perasaannya Campur Aduk, Ingat Mendiang Suami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dilantik-jadi-paw-dprd-mura-sri-sunarsih-mengaku-perasaannya-campur-aduk-ingat-mendiang-suami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-11-01 07:29:07","post_modified_gmt":"2022-11-01 00:29:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1588,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:36:40","post_date_gmt":"2022-10-31 10:36:40","post_content":"\n MUSI RAWAS<\/strong> - DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Musi Rawas (Mura) menggelar acara Memperingati Maulid Nabi Muhammad, di Sekretariat DPD PKS Mura, Sabtu (22\/10).<\/p>\n\n\n\n Hadir dalam acara itu anggota DPR RI Fraksi PKS, Mustafa Kamal, SS., anggota DPRD Sumatera Selatan (Sumsel) Fraksi PKS, Subhan, SE., Ketua DPD PKS Mura, Suhari, S. Pt. Ketua Dewan Etik Daerah PKS Mura yang juga Pimpinan Rumah Tahfidz Al-Ihzah Muara Kelingi, Iwan Susanto, S. Pd. I., Kades Tegal Rejo, Agus Salim, Penceramah, Ustadz Azhami Johani, S. P.d. I. dan segenap tamu undangan.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPD PKS Mura Suhari, dalam sambutan menyampaikan terimakasih kepada segenap yang hadir karena sudah memenuhi undangan DPD PKS Mura dalan rangka Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. <\/p>\n\n\n\n \"Terimakasih atas kehadirannya sudah menyempatkan waktu hadir disini, semoga menjadi amal shaleh,\" ujarnya.<\/p>\n\n\n\n Acara Maulid Nabi Muhammad yang diselenggarakan PKS itu, jelas Suhari, sesuai instruksi DPP PKS yang harus diselenggarakan tiap daerah kepengurusan.<\/p>\n\n\n\n \"PKS akan menjadi perekat umat. Dengan peringatan maulid ini, kita mengingat kembali perjuangan Rasulullah dalam menghidupkan agama,\" jelasnya.<\/p>\n\n\n\n Ia berharap, dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad ini bisa meneladani sifat Rasulullah dan menghidupkan sunnah.<\/p>\n\n\n\n Sementara, anggota DPR RI Fraksi X PKS, Mustafa Kamal, dalam sambutan menceritakan perjalanan Rasulullah dalam menyempurnakan akhlak mulia manusia.<\/p>\n\n\n\n Dimana, akhlak mulia sendiri sudah menjadi aturan di Indonesia dan tercantum dalam Undang-undang.<\/p>\n\n\n\n Kemudian, pada tausiyah, Ustadz Azhami Johani menyampaikan saat ini sudah banyak orang pintar, tapi tidak sedikit yang akhlaknya jahiliah.<\/p>\n\n\n\n \"Sekarang ini kejahiliahan kontemporer. Yang paling penting adalah akhlak, sejauh mana kita mencontoh Nabi. Zaman sekarang kita ini isalam tapi kadang tidak islami,\" katanya.<\/p>\n\n\n\n Dimomen Maulid Nabi Muhammad ini, Ustadz Azhami mengajak hadirin untuk mencontoh sifat Rasulullah, salah satunya sifat peduli.<\/p>\n\n\n\n \"Zaman sekarang kita krisis kepedulian, banyak pencitraan dan seremonial\".<\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Humas PKS Musi Rawas<\/p>\n","post_title":"DPD PKS Musi Rawas Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dpd-pks-musi-rawas-peringati-maulid-nabi-muhammad-saw","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:38:00","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:38:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1584,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:24:53","post_date_gmt":"2022-10-31 10:24:53","post_content":"\n JAKARTA \u2013 Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kemarin (30\/10) bertemu dengan mantan Gubernur dua periode Jawa Barat Ahmad Heryawan di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera, Jalan TB Simatupang, Jakarta. Pertemuan ini merupakan bagian dari kegiatan pelatihan relawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang diinisiasi oleh Bidang Kesejahteraan Sosial DPP PKS.<\/p>\n\n\n\n Dalam sambutannya, Ahmad Heryawan mengatakan bahwa negara hadir untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Keamanan merupakan hasil dari tidak adanya rasa takut, sementara kesejahteraan diindkasikan dari tidak adanya rasa lapar. Menurut Kang Aher, panggilan akrab Wakil Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, jalan negara menuju kesejahteraan masih cukup jauh karena adanya persoalan yang belum terselesaikan baik dari hasil pembangunan saat ini yang berdampak pada masalah sosial maupun dari masalah eksternal.<\/p>\n\n\n\n \u201cAda 17 persen dari 88 juta kepala keluarga yang masih masuk kelompok pra sejahtera. Mengapa ini terjadi, karena salah satunya adalah rendahnya pendidikan. Dari 17 persen tersebut, 50 persen di antaranya lulusan sekolah dasar. Inillah persoalannya,\u201d ungkap Aher.<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n \"Beliau meninggal karena covid-19 tahun 2021 kemarin,\" jelasnya.<\/p>\n\n\n\n Dia merupakan seorang mualaf dan ibu rumah tangga yang aktif di ibu-ibu pengajian di Desa Megang Sakti 3.<\/p>\n\n\n\n Dari situlah, Sri Sunarsih memberanikan diri untuk ikut berpolitik pada Pileg tahun 2019.<\/p>\n\n\n\n \"Ibu-ibu pengajian banyak yang dukung, dan minta saya maju,\" katanya. <\/p>\n\n\n\n Setelah dilantik dia mengaku siap memperjuangkan aspirasi masyarakat agar bisa tersampaikan kepada pemerintah.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPD PKS Kabupaten Mura, H. Suhari, S. Pt. mengaku, Sri Sunarsih dilantik mengantikan Supandi, SE., MM. <\/p>\n\n\n\n \"Karena komitmen, ketika di 2022 ada pergantian untuk memberikan motivasi calon legislatif (Caleg) dibawah untuk semangat berjuang,\" ungkapnya. <\/p>\n\n\n\n Kemudian disinggung mengenai target pada Pileg 2024 mendatang, H. Suhari, S. Pt. menargetkan 1 dapil 1 kursi.<\/p>\n\n\n\n Bupati Mura, Hj Ratna Machmud mengatakan, atas nama Pemkab Musi Rawas mengucapkan selamat menjalankan tugas sebagai wakil rakyat.<\/p>\n\n\n\n \"Terpilihnya saudara mencerminkan besarnya harapan masyarakat, untuk kehidupan yang lebih baik,\" kata Bupati.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, dalam menjalankan tugas agar lebih visioner, kreatif, inovatif untuk mewujudkan harapan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \"Berhasil atau tidaknya pembangunan Daerah, salah satu tergantung pada peran DPRD, terutama pada pelaksanaan program pembangunan, sehingga pada akhirnya nanti betul-betul mewakili daerah pilihannya,\" ucap Bupati.<\/p>\n\n\n\n Bupati juga mengucapkan kepada Supandi, atas sumbangsinya yang diberikan selama menjadi mitra Pemkab Mura.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPRD Mura, Azandri mengucapkan terimakasih atas sumbangsinya yang diberikan Supandi selama aktif menjadi anggota DPRD Kabupaten Mura.<\/p>\n\n\n\n <\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Sumber : SRIPOKU.com<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dilantik Jadi PAW DPRD Mura, Sri Sunarsih Mengaku Perasaannya Campur Aduk, Ingat Mendiang Suami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dilantik-jadi-paw-dprd-mura-sri-sunarsih-mengaku-perasaannya-campur-aduk-ingat-mendiang-suami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-11-01 07:29:07","post_modified_gmt":"2022-11-01 00:29:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1588,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:36:40","post_date_gmt":"2022-10-31 10:36:40","post_content":"\n MUSI RAWAS<\/strong> - DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Musi Rawas (Mura) menggelar acara Memperingati Maulid Nabi Muhammad, di Sekretariat DPD PKS Mura, Sabtu (22\/10).<\/p>\n\n\n\n Hadir dalam acara itu anggota DPR RI Fraksi PKS, Mustafa Kamal, SS., anggota DPRD Sumatera Selatan (Sumsel) Fraksi PKS, Subhan, SE., Ketua DPD PKS Mura, Suhari, S. Pt. Ketua Dewan Etik Daerah PKS Mura yang juga Pimpinan Rumah Tahfidz Al-Ihzah Muara Kelingi, Iwan Susanto, S. Pd. I., Kades Tegal Rejo, Agus Salim, Penceramah, Ustadz Azhami Johani, S. P.d. I. dan segenap tamu undangan.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPD PKS Mura Suhari, dalam sambutan menyampaikan terimakasih kepada segenap yang hadir karena sudah memenuhi undangan DPD PKS Mura dalan rangka Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. <\/p>\n\n\n\n \"Terimakasih atas kehadirannya sudah menyempatkan waktu hadir disini, semoga menjadi amal shaleh,\" ujarnya.<\/p>\n\n\n\n Acara Maulid Nabi Muhammad yang diselenggarakan PKS itu, jelas Suhari, sesuai instruksi DPP PKS yang harus diselenggarakan tiap daerah kepengurusan.<\/p>\n\n\n\n \"PKS akan menjadi perekat umat. Dengan peringatan maulid ini, kita mengingat kembali perjuangan Rasulullah dalam menghidupkan agama,\" jelasnya.<\/p>\n\n\n\n Ia berharap, dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad ini bisa meneladani sifat Rasulullah dan menghidupkan sunnah.<\/p>\n\n\n\n Sementara, anggota DPR RI Fraksi X PKS, Mustafa Kamal, dalam sambutan menceritakan perjalanan Rasulullah dalam menyempurnakan akhlak mulia manusia.<\/p>\n\n\n\n Dimana, akhlak mulia sendiri sudah menjadi aturan di Indonesia dan tercantum dalam Undang-undang.<\/p>\n\n\n\n Kemudian, pada tausiyah, Ustadz Azhami Johani menyampaikan saat ini sudah banyak orang pintar, tapi tidak sedikit yang akhlaknya jahiliah.<\/p>\n\n\n\n \"Sekarang ini kejahiliahan kontemporer. Yang paling penting adalah akhlak, sejauh mana kita mencontoh Nabi. Zaman sekarang kita ini isalam tapi kadang tidak islami,\" katanya.<\/p>\n\n\n\n Dimomen Maulid Nabi Muhammad ini, Ustadz Azhami mengajak hadirin untuk mencontoh sifat Rasulullah, salah satunya sifat peduli.<\/p>\n\n\n\n \"Zaman sekarang kita krisis kepedulian, banyak pencitraan dan seremonial\".<\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Humas PKS Musi Rawas<\/p>\n","post_title":"DPD PKS Musi Rawas Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dpd-pks-musi-rawas-peringati-maulid-nabi-muhammad-saw","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:38:00","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:38:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1584,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:24:53","post_date_gmt":"2022-10-31 10:24:53","post_content":"\n JAKARTA \u2013 Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kemarin (30\/10) bertemu dengan mantan Gubernur dua periode Jawa Barat Ahmad Heryawan di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera, Jalan TB Simatupang, Jakarta. Pertemuan ini merupakan bagian dari kegiatan pelatihan relawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang diinisiasi oleh Bidang Kesejahteraan Sosial DPP PKS.<\/p>\n\n\n\n Dalam sambutannya, Ahmad Heryawan mengatakan bahwa negara hadir untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Keamanan merupakan hasil dari tidak adanya rasa takut, sementara kesejahteraan diindkasikan dari tidak adanya rasa lapar. Menurut Kang Aher, panggilan akrab Wakil Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, jalan negara menuju kesejahteraan masih cukup jauh karena adanya persoalan yang belum terselesaikan baik dari hasil pembangunan saat ini yang berdampak pada masalah sosial maupun dari masalah eksternal.<\/p>\n\n\n\n \u201cAda 17 persen dari 88 juta kepala keluarga yang masih masuk kelompok pra sejahtera. Mengapa ini terjadi, karena salah satunya adalah rendahnya pendidikan. Dari 17 persen tersebut, 50 persen di antaranya lulusan sekolah dasar. Inillah persoalannya,\u201d ungkap Aher.<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n Sri Sunarsih dilantik jadi Pengganti Antar Waktu (PAW) DPRD Kabupaten Musi Rawas sisa masa jabatan 2019-2024 dari Fraksi PKS, di Auditorium Pemkab Musi Rawas, Senin (31\/10\/2022).<\/p>\n\n\n\n \"Beliau meninggal karena covid-19 tahun 2021 kemarin,\" jelasnya.<\/p>\n\n\n\n Dia merupakan seorang mualaf dan ibu rumah tangga yang aktif di ibu-ibu pengajian di Desa Megang Sakti 3.<\/p>\n\n\n\n Dari situlah, Sri Sunarsih memberanikan diri untuk ikut berpolitik pada Pileg tahun 2019.<\/p>\n\n\n\n \"Ibu-ibu pengajian banyak yang dukung, dan minta saya maju,\" katanya. <\/p>\n\n\n\n Setelah dilantik dia mengaku siap memperjuangkan aspirasi masyarakat agar bisa tersampaikan kepada pemerintah.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPD PKS Kabupaten Mura, H. Suhari, S. Pt. mengaku, Sri Sunarsih dilantik mengantikan Supandi, SE., MM. <\/p>\n\n\n\n \"Karena komitmen, ketika di 2022 ada pergantian untuk memberikan motivasi calon legislatif (Caleg) dibawah untuk semangat berjuang,\" ungkapnya. <\/p>\n\n\n\n Kemudian disinggung mengenai target pada Pileg 2024 mendatang, H. Suhari, S. Pt. menargetkan 1 dapil 1 kursi.<\/p>\n\n\n\n Bupati Mura, Hj Ratna Machmud mengatakan, atas nama Pemkab Musi Rawas mengucapkan selamat menjalankan tugas sebagai wakil rakyat.<\/p>\n\n\n\n \"Terpilihnya saudara mencerminkan besarnya harapan masyarakat, untuk kehidupan yang lebih baik,\" kata Bupati.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, dalam menjalankan tugas agar lebih visioner, kreatif, inovatif untuk mewujudkan harapan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \"Berhasil atau tidaknya pembangunan Daerah, salah satu tergantung pada peran DPRD, terutama pada pelaksanaan program pembangunan, sehingga pada akhirnya nanti betul-betul mewakili daerah pilihannya,\" ucap Bupati.<\/p>\n\n\n\n Bupati juga mengucapkan kepada Supandi, atas sumbangsinya yang diberikan selama menjadi mitra Pemkab Mura.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPRD Mura, Azandri mengucapkan terimakasih atas sumbangsinya yang diberikan Supandi selama aktif menjadi anggota DPRD Kabupaten Mura.<\/p>\n\n\n\n <\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Sumber : SRIPOKU.com<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dilantik Jadi PAW DPRD Mura, Sri Sunarsih Mengaku Perasaannya Campur Aduk, Ingat Mendiang Suami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dilantik-jadi-paw-dprd-mura-sri-sunarsih-mengaku-perasaannya-campur-aduk-ingat-mendiang-suami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-11-01 07:29:07","post_modified_gmt":"2022-11-01 00:29:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1588,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:36:40","post_date_gmt":"2022-10-31 10:36:40","post_content":"\n MUSI RAWAS<\/strong> - DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Musi Rawas (Mura) menggelar acara Memperingati Maulid Nabi Muhammad, di Sekretariat DPD PKS Mura, Sabtu (22\/10).<\/p>\n\n\n\n Hadir dalam acara itu anggota DPR RI Fraksi PKS, Mustafa Kamal, SS., anggota DPRD Sumatera Selatan (Sumsel) Fraksi PKS, Subhan, SE., Ketua DPD PKS Mura, Suhari, S. Pt. Ketua Dewan Etik Daerah PKS Mura yang juga Pimpinan Rumah Tahfidz Al-Ihzah Muara Kelingi, Iwan Susanto, S. Pd. I., Kades Tegal Rejo, Agus Salim, Penceramah, Ustadz Azhami Johani, S. P.d. I. dan segenap tamu undangan.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPD PKS Mura Suhari, dalam sambutan menyampaikan terimakasih kepada segenap yang hadir karena sudah memenuhi undangan DPD PKS Mura dalan rangka Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. <\/p>\n\n\n\n \"Terimakasih atas kehadirannya sudah menyempatkan waktu hadir disini, semoga menjadi amal shaleh,\" ujarnya.<\/p>\n\n\n\n Acara Maulid Nabi Muhammad yang diselenggarakan PKS itu, jelas Suhari, sesuai instruksi DPP PKS yang harus diselenggarakan tiap daerah kepengurusan.<\/p>\n\n\n\n \"PKS akan menjadi perekat umat. Dengan peringatan maulid ini, kita mengingat kembali perjuangan Rasulullah dalam menghidupkan agama,\" jelasnya.<\/p>\n\n\n\n Ia berharap, dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad ini bisa meneladani sifat Rasulullah dan menghidupkan sunnah.<\/p>\n\n\n\n Sementara, anggota DPR RI Fraksi X PKS, Mustafa Kamal, dalam sambutan menceritakan perjalanan Rasulullah dalam menyempurnakan akhlak mulia manusia.<\/p>\n\n\n\n Dimana, akhlak mulia sendiri sudah menjadi aturan di Indonesia dan tercantum dalam Undang-undang.<\/p>\n\n\n\n Kemudian, pada tausiyah, Ustadz Azhami Johani menyampaikan saat ini sudah banyak orang pintar, tapi tidak sedikit yang akhlaknya jahiliah.<\/p>\n\n\n\n \"Sekarang ini kejahiliahan kontemporer. Yang paling penting adalah akhlak, sejauh mana kita mencontoh Nabi. Zaman sekarang kita ini isalam tapi kadang tidak islami,\" katanya.<\/p>\n\n\n\n Dimomen Maulid Nabi Muhammad ini, Ustadz Azhami mengajak hadirin untuk mencontoh sifat Rasulullah, salah satunya sifat peduli.<\/p>\n\n\n\n \"Zaman sekarang kita krisis kepedulian, banyak pencitraan dan seremonial\".<\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Humas PKS Musi Rawas<\/p>\n","post_title":"DPD PKS Musi Rawas Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dpd-pks-musi-rawas-peringati-maulid-nabi-muhammad-saw","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:38:00","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:38:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1584,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:24:53","post_date_gmt":"2022-10-31 10:24:53","post_content":"\n JAKARTA \u2013 Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kemarin (30\/10) bertemu dengan mantan Gubernur dua periode Jawa Barat Ahmad Heryawan di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera, Jalan TB Simatupang, Jakarta. Pertemuan ini merupakan bagian dari kegiatan pelatihan relawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang diinisiasi oleh Bidang Kesejahteraan Sosial DPP PKS.<\/p>\n\n\n\n Dalam sambutannya, Ahmad Heryawan mengatakan bahwa negara hadir untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Keamanan merupakan hasil dari tidak adanya rasa takut, sementara kesejahteraan diindkasikan dari tidak adanya rasa lapar. Menurut Kang Aher, panggilan akrab Wakil Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, jalan negara menuju kesejahteraan masih cukup jauh karena adanya persoalan yang belum terselesaikan baik dari hasil pembangunan saat ini yang berdampak pada masalah sosial maupun dari masalah eksternal.<\/p>\n\n\n\n \u201cAda 17 persen dari 88 juta kepala keluarga yang masih masuk kelompok pra sejahtera. Mengapa ini terjadi, karena salah satunya adalah rendahnya pendidikan. Dari 17 persen tersebut, 50 persen di antaranya lulusan sekolah dasar. Inillah persoalannya,\u201d ungkap Aher.<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n Sri Sunarsih dilantik jadi Pengganti Antar Waktu (PAW) DPRD Kabupaten Musi Rawas sisa masa jabatan 2019-2024 dari Fraksi PKS, di Auditorium Pemkab Musi Rawas, Senin (31\/10\/2022).<\/p>\n\n\n\n \"Beliau meninggal karena covid-19 tahun 2021 kemarin,\" jelasnya.<\/p>\n\n\n\n Dia merupakan seorang mualaf dan ibu rumah tangga yang aktif di ibu-ibu pengajian di Desa Megang Sakti 3.<\/p>\n\n\n\n Dari situlah, Sri Sunarsih memberanikan diri untuk ikut berpolitik pada Pileg tahun 2019.<\/p>\n\n\n\n \"Ibu-ibu pengajian banyak yang dukung, dan minta saya maju,\" katanya. <\/p>\n\n\n\n Setelah dilantik dia mengaku siap memperjuangkan aspirasi masyarakat agar bisa tersampaikan kepada pemerintah.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPD PKS Kabupaten Mura, H. Suhari, S. Pt. mengaku, Sri Sunarsih dilantik mengantikan Supandi, SE., MM. <\/p>\n\n\n\n \"Karena komitmen, ketika di 2022 ada pergantian untuk memberikan motivasi calon legislatif (Caleg) dibawah untuk semangat berjuang,\" ungkapnya. <\/p>\n\n\n\n Kemudian disinggung mengenai target pada Pileg 2024 mendatang, H. Suhari, S. Pt. menargetkan 1 dapil 1 kursi.<\/p>\n\n\n\n Bupati Mura, Hj Ratna Machmud mengatakan, atas nama Pemkab Musi Rawas mengucapkan selamat menjalankan tugas sebagai wakil rakyat.<\/p>\n\n\n\n \"Terpilihnya saudara mencerminkan besarnya harapan masyarakat, untuk kehidupan yang lebih baik,\" kata Bupati.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, dalam menjalankan tugas agar lebih visioner, kreatif, inovatif untuk mewujudkan harapan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \"Berhasil atau tidaknya pembangunan Daerah, salah satu tergantung pada peran DPRD, terutama pada pelaksanaan program pembangunan, sehingga pada akhirnya nanti betul-betul mewakili daerah pilihannya,\" ucap Bupati.<\/p>\n\n\n\n Bupati juga mengucapkan kepada Supandi, atas sumbangsinya yang diberikan selama menjadi mitra Pemkab Mura.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPRD Mura, Azandri mengucapkan terimakasih atas sumbangsinya yang diberikan Supandi selama aktif menjadi anggota DPRD Kabupaten Mura.<\/p>\n\n\n\n <\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Sumber : SRIPOKU.com<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dilantik Jadi PAW DPRD Mura, Sri Sunarsih Mengaku Perasaannya Campur Aduk, Ingat Mendiang Suami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dilantik-jadi-paw-dprd-mura-sri-sunarsih-mengaku-perasaannya-campur-aduk-ingat-mendiang-suami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-11-01 07:29:07","post_modified_gmt":"2022-11-01 00:29:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1588,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:36:40","post_date_gmt":"2022-10-31 10:36:40","post_content":"\n MUSI RAWAS<\/strong> - DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Musi Rawas (Mura) menggelar acara Memperingati Maulid Nabi Muhammad, di Sekretariat DPD PKS Mura, Sabtu (22\/10).<\/p>\n\n\n\n Hadir dalam acara itu anggota DPR RI Fraksi PKS, Mustafa Kamal, SS., anggota DPRD Sumatera Selatan (Sumsel) Fraksi PKS, Subhan, SE., Ketua DPD PKS Mura, Suhari, S. Pt. Ketua Dewan Etik Daerah PKS Mura yang juga Pimpinan Rumah Tahfidz Al-Ihzah Muara Kelingi, Iwan Susanto, S. Pd. I., Kades Tegal Rejo, Agus Salim, Penceramah, Ustadz Azhami Johani, S. P.d. I. dan segenap tamu undangan.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPD PKS Mura Suhari, dalam sambutan menyampaikan terimakasih kepada segenap yang hadir karena sudah memenuhi undangan DPD PKS Mura dalan rangka Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. <\/p>\n\n\n\n \"Terimakasih atas kehadirannya sudah menyempatkan waktu hadir disini, semoga menjadi amal shaleh,\" ujarnya.<\/p>\n\n\n\n Acara Maulid Nabi Muhammad yang diselenggarakan PKS itu, jelas Suhari, sesuai instruksi DPP PKS yang harus diselenggarakan tiap daerah kepengurusan.<\/p>\n\n\n\n \"PKS akan menjadi perekat umat. Dengan peringatan maulid ini, kita mengingat kembali perjuangan Rasulullah dalam menghidupkan agama,\" jelasnya.<\/p>\n\n\n\n Ia berharap, dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad ini bisa meneladani sifat Rasulullah dan menghidupkan sunnah.<\/p>\n\n\n\n Sementara, anggota DPR RI Fraksi X PKS, Mustafa Kamal, dalam sambutan menceritakan perjalanan Rasulullah dalam menyempurnakan akhlak mulia manusia.<\/p>\n\n\n\n Dimana, akhlak mulia sendiri sudah menjadi aturan di Indonesia dan tercantum dalam Undang-undang.<\/p>\n\n\n\n Kemudian, pada tausiyah, Ustadz Azhami Johani menyampaikan saat ini sudah banyak orang pintar, tapi tidak sedikit yang akhlaknya jahiliah.<\/p>\n\n\n\n \"Sekarang ini kejahiliahan kontemporer. Yang paling penting adalah akhlak, sejauh mana kita mencontoh Nabi. Zaman sekarang kita ini isalam tapi kadang tidak islami,\" katanya.<\/p>\n\n\n\n Dimomen Maulid Nabi Muhammad ini, Ustadz Azhami mengajak hadirin untuk mencontoh sifat Rasulullah, salah satunya sifat peduli.<\/p>\n\n\n\n \"Zaman sekarang kita krisis kepedulian, banyak pencitraan dan seremonial\".<\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Humas PKS Musi Rawas<\/p>\n","post_title":"DPD PKS Musi Rawas Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dpd-pks-musi-rawas-peringati-maulid-nabi-muhammad-saw","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:38:00","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:38:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1584,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:24:53","post_date_gmt":"2022-10-31 10:24:53","post_content":"\n JAKARTA \u2013 Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kemarin (30\/10) bertemu dengan mantan Gubernur dua periode Jawa Barat Ahmad Heryawan di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera, Jalan TB Simatupang, Jakarta. Pertemuan ini merupakan bagian dari kegiatan pelatihan relawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang diinisiasi oleh Bidang Kesejahteraan Sosial DPP PKS.<\/p>\n\n\n\n Dalam sambutannya, Ahmad Heryawan mengatakan bahwa negara hadir untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Keamanan merupakan hasil dari tidak adanya rasa takut, sementara kesejahteraan diindkasikan dari tidak adanya rasa lapar. Menurut Kang Aher, panggilan akrab Wakil Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, jalan negara menuju kesejahteraan masih cukup jauh karena adanya persoalan yang belum terselesaikan baik dari hasil pembangunan saat ini yang berdampak pada masalah sosial maupun dari masalah eksternal.<\/p>\n\n\n\n \u201cAda 17 persen dari 88 juta kepala keluarga yang masih masuk kelompok pra sejahtera. Mengapa ini terjadi, karena salah satunya adalah rendahnya pendidikan. Dari 17 persen tersebut, 50 persen di antaranya lulusan sekolah dasar. Inillah persoalannya,\u201d ungkap Aher.<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n \"Ibu-ibu pengajian banyak yang dukung, dan minta saya maju,\" katanya.<\/p>\n\n\n\n Sri Sunarsih dilantik jadi Pengganti Antar Waktu (PAW) DPRD Kabupaten Musi Rawas sisa masa jabatan 2019-2024 dari Fraksi PKS, di Auditorium Pemkab Musi Rawas, Senin (31\/10\/2022).<\/p>\n\n\n\n \"Beliau meninggal karena covid-19 tahun 2021 kemarin,\" jelasnya.<\/p>\n\n\n\n Dia merupakan seorang mualaf dan ibu rumah tangga yang aktif di ibu-ibu pengajian di Desa Megang Sakti 3.<\/p>\n\n\n\n Dari situlah, Sri Sunarsih memberanikan diri untuk ikut berpolitik pada Pileg tahun 2019.<\/p>\n\n\n\n \"Ibu-ibu pengajian banyak yang dukung, dan minta saya maju,\" katanya. <\/p>\n\n\n\n Setelah dilantik dia mengaku siap memperjuangkan aspirasi masyarakat agar bisa tersampaikan kepada pemerintah.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPD PKS Kabupaten Mura, H. Suhari, S. Pt. mengaku, Sri Sunarsih dilantik mengantikan Supandi, SE., MM. <\/p>\n\n\n\n \"Karena komitmen, ketika di 2022 ada pergantian untuk memberikan motivasi calon legislatif (Caleg) dibawah untuk semangat berjuang,\" ungkapnya. <\/p>\n\n\n\n Kemudian disinggung mengenai target pada Pileg 2024 mendatang, H. Suhari, S. Pt. menargetkan 1 dapil 1 kursi.<\/p>\n\n\n\n Bupati Mura, Hj Ratna Machmud mengatakan, atas nama Pemkab Musi Rawas mengucapkan selamat menjalankan tugas sebagai wakil rakyat.<\/p>\n\n\n\n \"Terpilihnya saudara mencerminkan besarnya harapan masyarakat, untuk kehidupan yang lebih baik,\" kata Bupati.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, dalam menjalankan tugas agar lebih visioner, kreatif, inovatif untuk mewujudkan harapan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \"Berhasil atau tidaknya pembangunan Daerah, salah satu tergantung pada peran DPRD, terutama pada pelaksanaan program pembangunan, sehingga pada akhirnya nanti betul-betul mewakili daerah pilihannya,\" ucap Bupati.<\/p>\n\n\n\n Bupati juga mengucapkan kepada Supandi, atas sumbangsinya yang diberikan selama menjadi mitra Pemkab Mura.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPRD Mura, Azandri mengucapkan terimakasih atas sumbangsinya yang diberikan Supandi selama aktif menjadi anggota DPRD Kabupaten Mura.<\/p>\n\n\n\n <\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Sumber : SRIPOKU.com<\/strong><\/p>\n","post_title":"Dilantik Jadi PAW DPRD Mura, Sri Sunarsih Mengaku Perasaannya Campur Aduk, Ingat Mendiang Suami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dilantik-jadi-paw-dprd-mura-sri-sunarsih-mengaku-perasaannya-campur-aduk-ingat-mendiang-suami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-11-01 07:29:07","post_modified_gmt":"2022-11-01 00:29:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1591","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1588,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:36:40","post_date_gmt":"2022-10-31 10:36:40","post_content":"\n MUSI RAWAS<\/strong> - DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Musi Rawas (Mura) menggelar acara Memperingati Maulid Nabi Muhammad, di Sekretariat DPD PKS Mura, Sabtu (22\/10).<\/p>\n\n\n\n Hadir dalam acara itu anggota DPR RI Fraksi PKS, Mustafa Kamal, SS., anggota DPRD Sumatera Selatan (Sumsel) Fraksi PKS, Subhan, SE., Ketua DPD PKS Mura, Suhari, S. Pt. Ketua Dewan Etik Daerah PKS Mura yang juga Pimpinan Rumah Tahfidz Al-Ihzah Muara Kelingi, Iwan Susanto, S. Pd. I., Kades Tegal Rejo, Agus Salim, Penceramah, Ustadz Azhami Johani, S. P.d. I. dan segenap tamu undangan.<\/p>\n\n\n\n Ketua DPD PKS Mura Suhari, dalam sambutan menyampaikan terimakasih kepada segenap yang hadir karena sudah memenuhi undangan DPD PKS Mura dalan rangka Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. <\/p>\n\n\n\n \"Terimakasih atas kehadirannya sudah menyempatkan waktu hadir disini, semoga menjadi amal shaleh,\" ujarnya.<\/p>\n\n\n\n Acara Maulid Nabi Muhammad yang diselenggarakan PKS itu, jelas Suhari, sesuai instruksi DPP PKS yang harus diselenggarakan tiap daerah kepengurusan.<\/p>\n\n\n\n \"PKS akan menjadi perekat umat. Dengan peringatan maulid ini, kita mengingat kembali perjuangan Rasulullah dalam menghidupkan agama,\" jelasnya.<\/p>\n\n\n\n Ia berharap, dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad ini bisa meneladani sifat Rasulullah dan menghidupkan sunnah.<\/p>\n\n\n\n Sementara, anggota DPR RI Fraksi X PKS, Mustafa Kamal, dalam sambutan menceritakan perjalanan Rasulullah dalam menyempurnakan akhlak mulia manusia.<\/p>\n\n\n\n Dimana, akhlak mulia sendiri sudah menjadi aturan di Indonesia dan tercantum dalam Undang-undang.<\/p>\n\n\n\n Kemudian, pada tausiyah, Ustadz Azhami Johani menyampaikan saat ini sudah banyak orang pintar, tapi tidak sedikit yang akhlaknya jahiliah.<\/p>\n\n\n\n \"Sekarang ini kejahiliahan kontemporer. Yang paling penting adalah akhlak, sejauh mana kita mencontoh Nabi. Zaman sekarang kita ini isalam tapi kadang tidak islami,\" katanya.<\/p>\n\n\n\n Dimomen Maulid Nabi Muhammad ini, Ustadz Azhami mengajak hadirin untuk mencontoh sifat Rasulullah, salah satunya sifat peduli.<\/p>\n\n\n\n \"Zaman sekarang kita krisis kepedulian, banyak pencitraan dan seremonial\".<\/p>\n\n\n\n ***<\/p>\n\n\n\n Humas PKS Musi Rawas<\/p>\n","post_title":"DPD PKS Musi Rawas Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"dpd-pks-musi-rawas-peringati-maulid-nabi-muhammad-saw","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:38:00","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:38:00","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":1584,"post_author":"6","post_date":"2022-10-31 17:24:53","post_date_gmt":"2022-10-31 10:24:53","post_content":"\n JAKARTA \u2013 Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kemarin (30\/10) bertemu dengan mantan Gubernur dua periode Jawa Barat Ahmad Heryawan di kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera, Jalan TB Simatupang, Jakarta. Pertemuan ini merupakan bagian dari kegiatan pelatihan relawan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang diinisiasi oleh Bidang Kesejahteraan Sosial DPP PKS.<\/p>\n\n\n\n Dalam sambutannya, Ahmad Heryawan mengatakan bahwa negara hadir untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Keamanan merupakan hasil dari tidak adanya rasa takut, sementara kesejahteraan diindkasikan dari tidak adanya rasa lapar. Menurut Kang Aher, panggilan akrab Wakil Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, jalan negara menuju kesejahteraan masih cukup jauh karena adanya persoalan yang belum terselesaikan baik dari hasil pembangunan saat ini yang berdampak pada masalah sosial maupun dari masalah eksternal.<\/p>\n\n\n\n \u201cAda 17 persen dari 88 juta kepala keluarga yang masih masuk kelompok pra sejahtera. Mengapa ini terjadi, karena salah satunya adalah rendahnya pendidikan. Dari 17 persen tersebut, 50 persen di antaranya lulusan sekolah dasar. Inillah persoalannya,\u201d ungkap Aher.<\/p>\n\n\n\n Menurutnya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia harus melalui pendidikan dan kesehatan. Mengutip dari UNESCO, pendidikan yang baik minimal SLTA dan S1. Jika pendidkan sudah merata dan bisa mencapai indeks 0,94, maka bisa mendekati angka kesejahteraan.<\/p>\n\n\n\n \u201cApalagi jika ditopang dengan kesehatan dasar yang prima. Di Jawa Barat, posyandu berperan dalam membangun kesehatan dasar. Kita lakukan baik lewat pemerintah melalui APBD mapun melalui relawan-relawan kita di lapangan. Kita menjadi masyarakat sipil yang menjadi mitra negara dalam membangun Indonesia yang lebih baik.\u201d<\/p>\n\n\n\n Aher mengatakan, meski pembangunan diukur dari pertumbuhan ekonomi makro, namun dampaknya harus bisa juga untuk sampai pada level mikro.<\/p>\n\n\n\n \u201cKesejahteraan masyarakat pada level yang paling bawah juga (harus) terdampak (dari pembangunan).\u201d<\/p>\n\n\n\n Anies Baswedan yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar menegaskan bahwa masalah utama pendidikan di Indonesia adalah guru. Mereka yang berprestasi di kampus tidak berminat menjadi guru dan lebih memilih profesi lain. Apalagi menjadi guru di daerah-daerah pedalaman dan terpencil.<\/p>\n\n\n\n \u201cPadahal sebenarnya mereka ini mau menjadi guru, yang tidak mau adalah menjadi guru seumur hidup. (Maka) kami tawarkan mereka insentif non material. Kami tidak pernah menawari mereka rupiah, karena mereka pasti akan membandingkannya dengan di kota. Kami tawarkan apakah mereka mau punya bekas yang akan terus diingat seumur hidup oleh anak-anak di pedalaman ini. Sesuatu yang mulia harus diturunkan dengan sesuatu yang rasional,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n Anies mengatakan bahwa ada dua pendekatan ketika melakukan aktifitas sosial, yaitu program dan gerakan. Sifat program adalah pelakunya hanya terbatas pada mereka yang terlibat di dalamnya, sedangkan gerakan lebih melibatkan sebanyak mungkin masyarakat.<\/p>\n\n\n\n \u201cHampir semua kegiatan kita bersifat program sehingga orang-orang yang berada di luar program hanya akan menjadi penonton. Republik ini tidak dibangun dengan program, tapi dengan gerakan. Misalnya, saat awal merdeka, ada 95 persen penduduk Indonesia yang buta huruf. Pemerintah lalu membuat gerakan untuk memberantas buta huruf dengan mengajak masyarakat yang bisa membaca untuk mengajar mereka yang buta huruf. Bung Karno tahun 1948 mengajak masyarakat yang melek huruf di alun-alun Yogyakarta untuk mengajar.\u201d<\/p>\n\n\n\n Dalam bahasa terkini, tutur Anies, gerakan adalah kolaborasi. Ketika mendorong gerakan seperti Indonesia Mengajar, maka harus ada pesan yang membuat orang terpancing untuk ikut memikirkan sehingga berujung pada keterlibatan.<\/p>\n\n\n\n \u201cIndonesia Mengajar menawarkan pengalaman baru yang akan didapat oleh mereka yang terlibat. Bukan menceritakan adanya suatu masalah untuk diselesaikan, melainkan apa yang mereka dapatkan jika berpartisipasi dalam gerakan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n Keunggulan sebuah gerakan bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menyelesaikan masalah.<\/p>\n\n\n\n \u201cKalau hanya program, efek tularnya kecil. Birokrasi terbiasa program, menyusun anggaran sendiri, dan rakyat hanya diminta untuk bayar pajak saja. Begitu birokrasi terlatih untuk berkolaborasi, masyarakat itu datang membawa ide, gagasan, terobosan.\u201d<\/p>\n\n\n\n Menurut Anies, pendidikan itu adalah tentang siapa dapat apa. Siapa dididik apa hari ini, besok akan duduk di mana.<\/p>\n\n\n\n \u201cPendidikan adalah instrument untuk membentuk masyarakat yang adil di masa akan datang.\u201d<\/p>\n\n\n\n<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n\n\n\n<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n\n\n\n<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n\n\n\n<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n\n\n\n<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n\n\n\n<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n\n\n\n<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n\n\n\n<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n\n\n\n<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n\n\n\n<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n\n\n\n<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n\n\n\n<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n\n\n\n<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n\n\n\n<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n\n\n\n<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n\n\n\n<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n\n\n\n<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n\n\n\n<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n\n\n\n<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n\n\n\n<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n\n\n\n<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n\n\n\n<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n\n\n\n<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n\n\n\n<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n\n\n\n<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n\n\n\n<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n\n\n\n<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n\n\n\n<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\n<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/figure>\n\n\n\n
<\/figure>\n\n\n\n<\/figure>\n","post_title":"Pertemuan Anies \u2013 Aher di DPP PKS Bahas Masalah Pendidikan di Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"open","ping_status":"open","post_password":"","post_name":"pertemuan-anies-aher-di-dpp-pks-bahas-masalah-pendidikan-di-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-10-31 17:27:19","post_modified_gmt":"2022-10-31 10:27:19","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/musirawas.pks-sumsel.or.id\/?p=1584","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};